Walau Sampai Ke Istana, Kasus Novel Masih Gelap

0

 

Forumkeadilan.com. Semestinya tak ada alasan bagi Polri untuk kesulitan menangani kasus ini karena banyak kasus yang lebih besar yang bisa terungkap dalam waktu singkat. “Ini soal si Kapolrinya, mau, berani apa enggak.” Setidaknya begitulah menurut mantan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras). Haris pun mensinyalir, di balik pengusutan kasus ini  sarat kepentingan di internal Polri. Haris agaknya sealiran dengan Novel Baswedan, yang melontarkan kabat tentang adanaya keterlibatan seorang Jenderal Polisi dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

 

Dua pekan silam, Presiden Joko Widodo memanggil dan memerintahkan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk segera menuntaskan kasus yang menimpa penyidik seniro Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. “Itu perintah beliau, tapi kami sudah sampaikan langkah-langkah yang sudah kami lakukan. Prinsip, kita ingin agar sesegera mungkin tapi kadang kadang ada kendala-kendala di lapangan,” tutur Tito di Kantor Presiden, Senin 31 Juli 2017, setelah bertemu Presiden di Istana Merdeka.

Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (kanan), Menko Polhukam Wiranto (kedua kanan), dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kiri) menjawab pertanyaan wartawan seusai memberikan pembekalan kepada calon perwira remaja (Capaja) Akademi TNI dan Polri tahun 2017 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, Senin (24/7). Dalam kesempatan tersebut presiden menyampaikan bahwa para calon perwira remaja harus mampu mengikuti visi pertahanan sesuai dengan perkembangan zaman. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/17

Kapolri diminta menjelaskan perkembangan penanganan kasus dugaan penganiayaan Novel Baswedan. Hingga saat ini, menurut Kapolri, polisi telah mendengarkan setidaknya keterangan dari 59 saksi. “Ada lima orang yang sudah kita amankan. Sejumlah cctv ada lebih kurang 50 cctv dalam radius 1 km juga sudah kita dapatkan juga. Berikut ada beberapa sekitar 100 lebih toko kimia yang sudah kita datangi yang menjual H2SO4, ini juga masih dalam pengembangan kita,” ucap Tito.

Dari saksi-saksi yang telah dimintakan keterangannya, Kapolri mengakui  belum menemukan saksi yang melihat atau mengetahui wajah tersangka pada waktu kejadian. “Kita belum mendapatkan saksi pada saat kejadian. Yang ada adalah dua orang ibu-ibu, yang menggunakan mukena pulang dari masjid. Ada juga saya kira di cctv yang di medsos, itu sudah kita dengar keterangannya juga. Tapi tidak, hanya melihat kejadian, tidak melihat wajah tersangka,” ujar Tito.

Namun Kapolri mengaku bahwa pihak Kepolisian telah berhasil menemukan saksi yang cukup penting, tapi yang bersangkutan tidak ingin disebutkan namanya untuk alasan keamanan. “Dia melihat kira-kira lima menit sebelum peristiwa, ada orang yang berdiri di dekat masjid, yang itu sosoknya mencurigakan, yang diduga dia adalah pengendara sepeda motor penyerang,” ucap Tito.

Dari keterangan saksi ini, pihak Kepolisian mulai dapat melakukan sketsa pelaku, mulai dari sketsa tangan sampai dengan menggunakan teknologi yang mutakhir. “Kita bekerja sama dengan rekan-rekan dari AFP kepolisian Australia, kemudian kita rekonstruksikan menggunakan sistem komputer, sehingga terakhir kita dapatkan yang ini. Ini mungkin belum dipublished  ya, karena ini baru kira-kira dua hari yang lalu ini,” kata Tito.

Tito menambahkan, pihak Kepolisian juga telah menyampaikan perkembangan kasus ini kepada KPK. “Kita ingin agar teman-teman dari KPK juga bisa bergabung untuk membentuk tim gabungan Polri khususnya Polda Metro Jaya. Baik tim lidik (penyelidik) maupun tim analisnya, dan kita akan terbuka untuk itu. kami sudah menawarkan dari tanggal 16 Juni,” kata Tito.

Dua pekan sudah berlalu. Namun pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan masih belum jelas.

Sebagaimana diberitakan,  pada 11 April 2017, usai Novel shalat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, ia disiram air keras oleh orang tak dikenal. Pelaku diduga dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Akibatnya, mata kiri Novel cedera dan sulit melihat. Hingga kini, ia masih menjalani perawatan di Singapura.

Hitung punya hitung, pengusutan kasus ini sudah berjalan selama 4 bulan, memasuki bulan ke lima. Terbilang lama memang bila dibandingkan dengan kegesitan polisi dalam mengungkap kasus terorisme. Setidaknya menurut mantan Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar. Haris meminta Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bertindak profesional dalam penanganan kasus penyiraman Novel Baswedan.

Haris menengarai, di balik pengusutan kasus ini  sarat kepentingan di internal Polri. “Saya mau kasih semangat ke Kapolri, Anda harus berani. Karena Kapolri cuma satu, dia aja. Dia harusnya berani dan bisa,” ujar Haris di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Rabu, 26 Juli 2017.

Menurut Haris, barang bukti dan keterangan saksi seharusnya cukup bagi penyidik untuk menemukan pelakunya. Teknologi yang dimiliki Polri sudah mumpuni untuk mengolah barang bukti. Semestinya tak ada alasan bagi Polri untuk kesulitan menangani kasus ini karena banyak kasus yang lebih besar yang bisa terungkap dalam waktu singkat. “Ini soal si Kapolrinya, mau, berani apa enggak. Bahwa nanti orang yang resisten dengan kasus Novel, yang tidak suka Novel, yang berkepentingan agar kasus ini tidak dibuka, dia terganggu kalau Kapolri buka kasusnya,” simpul Haris.

Jika nantinya ada perlawanan balik dari pihak luar maupun dari oknum polisi, Tito tidak perlu takut. “Saya pikir masyarakat akan semakin mendukung Polri kalau pak Tito berani bongkar ini,” lanjut dia.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7). Kapolri dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk melaporkan perkembangan kasus Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/17

Berdasarkan informasi yang Haris himpun, ada tarik menarik kepentingan di internal Polri. Novel pun sudah mengungkap bahwa ada keterlibatan perwira tinggi Polri dalam kejadian itu. Namun, korps Bhayangkara memilih menutupinya demi melindungi citra Polri. “Kalau bilang tidak ada yang terlibat, itu sopan santun membela korpsnya aja. “Kalau ada tarik menarik kepentingan dan memainkan kasus Novel, saya rasa sejumlah penyidik tahu soal ini. Termasuk Kapolri,” lanjut Haris.

Haris melihat banyak kepentingan di tubuh kepolisian yang memengaruhi proses penyidikan yang menyebabkan politik saling “sandera” di internal. Haris meyakini sebenarnya Polri mampu mengungkap kasus Novel berbekal barang bukti dan informasi yang cukup banyak dihimpun. “Namun, kemampuan pengungkapan terhadap kasus Novel justru terhadang oleh kepentingan beberapa kelompok di internal kepolisian,” kata Haris.

Apa yang disinyalir oleh Haris meramaikan isu yang mula-mula dihembuskan oleh Novel Baswedan. Dalam sebuah wawancara kepada Time, Novel mengatakan bahwa serangan itu terkait sejumlah kasus korupsi yang ditanganinya. “Begitu banyak korupsi untuk dilawan,” kata Novel kepada Time, yang dilansir Kompas.com, Kamis, 15 Juni 2017.

Saat diwawancara Time, Novel masih dalam proses penyembuhan terhadap matanya yang terkena siraman air keras. Sebuah pelindung mata terlihat terpasang di wajahnya untuk melindungi penglihatannya yang mulai membaik. Dalam perhitungan Novel, serangan air keras itu merupakan kali keenam dia mendapat serangan terkait pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

Pada 2011, sebuah mobil nyaris menabraknya saat dia mengendarai sepeda motor. Novel sempat berpikir bahwa itu adalah kejadian biasa. Namun, pikiran itu berubah saat kejadian yang sama terulang pada pekan berikutnya.

Terhadap serangan air keras yang terjadi usai dia menunaikan shalat subuh itu, Novel pun berharap polisi bisa segera menemukan pelakunya. Namun, sekitar dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, polisi hingga kini belum menemukan pelakunya.

Novel pun menduga ada “orang kuat” yang menjadi dalang serangan itu. Bahkan, dia mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi ikut terlibat. “Saya memang mendapat informasi bahwa seorang jenderal polisi terlibat,” kata Novel. “Awalnya saya mengira informasi itu salah. Tapi setelah dua bulan dan kasus itu belum juga selesai, saya mengatakan (kepada yang memberi informasi itu), sepertinya informasi itu benar,” kata Novel.

Bola yang dilempar Novel ternyata menjadi isu baru yang boleh jadi dipercayai oleh sebagain orang. Tapi isu ini juga merepotkan Novel sendiri. Menanggapi informasi tersebut, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul menyatakan, seharusnya Novel Baswedan sebagai korban penyerangan air keras menyampaikan setiap informasi penting yang diketahuinya kepada penyidik Polda Metro Jaya yang menangani kasusnya.

Selain agar bisa ditindaklanjuti dan dikroscek kebenarannya, juga untuk menghindari penilaian pernyataan Novel itu sebuah tuduhan atau tudingan kepada pihak tertentu. “Informasi-informasi yang dianggap penting oleh saudara Novel hendaknya disampaikan kepada penyidik, supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan,” ujar Kombes Pol Martinus Sitompul pada media massa. “Karena informasi itu kan harus diuji, tidak dibiarkan, kalau diberikan kepada penyidik. Nanti kami akan teruskan, kami akan selidiki,” lanjut Martinus.

Anggota Komisi III DPR, Muslim Ayub juga mempersoalkan pernyataan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang menyebut ada keterlibatan oknum jenderal dalam kasus penyiraman air keras terhadap dirinya.

Menurut Ayub, sebagai penyidik KPK, seharusnya Novel Baswedan tidak sembarang menuduh tanpa disertai bukti karena akan melahirkan kegaduhan politik nasional. Sebaiknya langsung diberitahukan kepada penyidik bukan diumbar melalui media massa yang akan menjadi bola liar. “Makanya Novel pun harus terbuka siapa yang terlibat dalam kasus ini, kalau memang ada bukti laporkan dong jangan menuduh sembarangan saja,” tutur Ayub saat dikonfirmasi Okezone, Selasa, 8 Agustus 2017.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai, selain menciptakan kegaduhan antar pejabat negara, pernyataan kontroversi Novel Baswedan cenderung melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum di Indonesia. “Jadi kalau kita menuduh sementara bukti tidak ada tidak bisa, itu barangkali mencitrakan buruk orang lain. Itu kan tidak baik seperti itu,” pungkasnya.

Ayub yakin tuduhan Novel Baswedan tentang keterlibatan jenderal itu melenceng karena modus penyiraman air keras terbilang kurang profesional. Menurutnya, kalau berniat jahat polisi bisa saja meneror Novel Baswedan dengan cara yang lebih sadis. “Begini, kalau kita mencurigai ada keterlibatan polisi, ngapain disiram, ini kan pekerjaan yang tanggung, yang dilakukan oleh pelakunya. Artinya pekerjaannya bisa mengarah kepada orang yang tidak profesional, mestinya kalau ada keterlibatan polisi kalau mau melakukan pembunuhan bukan dengan cara begini,” simpulnya.

Syahdan terbetik kabar, setelah diwawancarai Time, polisi ingin meminta keterangan dari Novel. Namun Novel diberitakan tidak bersedia diperiksa. Kabar itu datang dari Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono menyampaikan, penyidik telah berupaya memeriksa Novel Baswedan di Singapura. Tapi, niatnya itu terhalang oleh sikap Novel yang tidak bersedia diperiksa oleh polisi.

Polisi juga telah meninggalkan materi pemeriksaan dalam bentuk kertas agar dijawab oleh Novel Baswedan tanpa harus bertatap muka. Namun, mantan polisi itu masih saja tidak bersedia menjawab daftar pertanyaan yang telah disusun oleh tim penyidik.  “Kita juga sudah memberikan daftar pertanyaan kepada yang bersangkutan, kita menunggu kapan diisinya. Kalau sudah dijawab kita ambil. Sampai sekarang belum ada jawaban,” tutur Argo, Kamis 2 Agustus 2017.

Novel pun membantah anggapan tersebut. “Saya tidak pada posisi menolak ya, cuma saya mempertanyakan (maksud pemeriksaan). Toh juga secara formal, penyidik yang datang itu belum izin kepada dokter yang memeriksa saya,” kata Novel. Hal ini disampaikan Novel kepada Najwa Shihab dalam program acara “Mata Najwa” yang ditayangkan Metro TV pada Rabu, 26 Juli 2017) malam.

Novel mempertanyakan perihal pemeriksaan yang dilalukan beberapa waktu lalu. “Saya bilang, urgensi memeriksa sekarang ini apa? Toh juga pelakunya belum ketangkap. Itu yang saya tanyakan,” kata Novel, seraya menyayangkan kejadian saat itu malah dipublikasi tidak tepat dengan menyebut bahwa dirinya tidak mau diperiksa. “Itu hanya ungkapan yang saya sampaikan. Lalu anggota Polri dipublikasi bahwa Novel tidak mau diperiksa,” kata Novel.

Novel menilai, polisi tidak tepat berupaya memintai keterangan dirinya. “Saya kan sudah memberikan keterangan dan menyampaikan keterangan dan fakta-fakta (di waktu sebelumnya), tapi enggak ditangkap (polisi), terus diminta untuk menjelaskan memberikan dalam BAP (berita acara pemeriksaan), untuk apa?” kata dia.

Novel kembali menegaskan bahwa dia mau diperiksa asalkan sudah sesuai prosedur yang berlaku. “Jangan seolah olah Novel tak mau diperiksa. Kalau memang harus beri keterangan maka saya akan berikan keterangan, tapi toh keterangan saya enggak banyak,” kata Novel.

Belakangan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengungkapkan bahwa  Novel telah menyatakan sepakat dan siap untuk dilakukan pemeriksaan oleh pihak kepolisian. Pemeriksaan Novel Baswedan tersebut untuk mengonfirmasi sejumlah informasi yang diterima Korps Bhayangkara terkait kasus teror penyiraman air keras.

Namun demikian, sambung Febri, pemeriksaan tersebut masih menunggu beberapa hasil keputusan medis terkait kondisi Novel Baswedan‎ dari tim dokter di Singapura. “Prinsipnya, baik KPK ataupun Novel, maupun Polri, sebenarnya sudah oke untuk melakukan pemeriksaan, tapi tinggal koordinasi soal waktu dan perkembangan medis dari dokter,” kata Febri di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa, 8 Agustus 2017.

Febri juga menceritakan kondisi Novel terkini. Mata kiri Novel Baswedan memang sempat mengalami perkembangan yang signifikan.‎ Hanya saja, setelah dilakukan pengecekan terakhir, Novel masih harus tetap menunggu keputusan dari tim dokter. “Nah (operasi besar) itu salah satu poin yang juga sedang kita koordinasikan,” ucapnya.

Mendengar informasi yang disampaikan Febri,  Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto segera merespon. Ia mengungkapkan bahwa tim dari Polri akan segera berangkat ke Rumah Sakit (RS) Singapura tempat di mana Kasatgas kasus korupsi e-KTP itu menjalani perawatan. “Kami berencana mau ke Singapura. Tapi belum tahu timnya sudah berangkat apa belum. Maunya sih secepatnya,” ungkap Setyo saat menghadiri acara Wisuda Purnawira Polisi di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Rabu, 9 Agustus 2017.

Sejauh ini, kata Setyo, Polri serius dalam mengungkap kasus teror tersebut. Ia mengklaim, selalu memberikan informasi ke KPK apabila menemukan data dan fakta terbaru mengenai kasus teror tersebut. Polri juga selalu berkoordinasi dengan KPK dalam mengungkap kasus teror penyiraman air keras ke wajah Novel. “Polri di-back up dan bekerjasama dengan KPK. Koordinasi terus kami lakukan,” ujarnya.

Selanjutnya publik tinggal menunggu, mana yang akan lebih dulu akan diprioritaskan oleh polisi untuk diusut. Pelaku penyiraman air keras atau pernyataan Novel tentang keterlibatan Jenderal Polisi?

Hamdani

You might also like More from author