Ruhendi, Pencabul Dua Anak Kandung Bisa Dihukum Mati

0

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise mengatakan Ruhendi (laki-laki, 32) yang mencabuli dua anak perempuan kandungnya, LA (16) dan LU (14), di Jakarta Barat dapat dihukum mati.

“Siapa saja yang melakukan kejahatan seksual terhadap anak-anak itu bisa terkena tembak mati, hukuman seumur hidup, pengumuman identitas pelaku ke umum dan pemasangan chip,” kata Yohana.

Pernyataan Yohana itu disampaikan di sela Simposium Nasional “Peran Ibu dan Ulama Perempuan sebagai Pencipta dan Penggerak Perdamaian dalam Keluarga dan Masyarakat” di Jakarta, Senin.

Dia mengatakan hukuman mati itu sesuai dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Dia menyatakan kasus itu agar terus diproses secara hukum dan pihaknya akan terus mengawal.

“Perlu kita kaji pendampingan kasus itu, yang penting sudah dilaporkan di polisi. Kita telusuri lagi,” kata dia.

Ruhendi merupakan karyawan toko di Glodok, Jakarta Barat. Pria berusia 32 tahun itu tega melakukan aksi bejatnya terhadap kedua putrinya sendiri, LA (16) dan LU (14), di rumah kontrakan mereka di Kelurahan Kedoya Utara, Jakarta Barat. Dia mengaku bahwa aksinya dilakukan sejak anak pertamanya duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD).

Ruhendi yang kemudian diketahui sebagai karyawan sebuah toko di kawasan Glodok, Jakarta Barat, mengakui bahwa perbuatannya dilakukan di rumah kontrakan mereka di Jalan Pesing Gadog RT 08 RW 06, Kelurahan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

“Saya begitu ke anak saya sewaktu anak saya masih duduk di kelas 5 SD,” kata Ruhendi singkat di Markas Kepolisian Metro Jakarta Barat, Selasa (28/11/2017).

Ia mengaku perbuatan itu karena nafsu berahinya timbul saat melihat kemolekan tubuh kedua putrinya.

Di hadapan polisi yang memeriksanya, Ruhendi tampak menangis dan meminta maaf kepada kedua putri dan istrinya Rohmawati (32). “Saya nafsu. Khilaf saya. Saya minta maaf, Pak,” tuturnya sambil menangis.

Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat, Kompol Iver S Mannosoh, menyampaikan bahwa kali pertama aksi asusila Ruhendi dilakukan terhadap anak pertamanya. Setelah itu kata Iver, aksinya kemudian dilakukan terhadap anak keduanya LU.
Namun terkait motifnya, Kompol Iver menyatakan belum bisa menjelaskan. Alasanya polisi sedang memintai keterangan secara cukup dan mendalami motifnya.

“Untuk motif, mohon maaf, saat ini kami belum bisa menjelaskan karena kami yang bersangkutan baru ditangkap kemarin. Yang pasti kami sedang mendalami motifnya,” katanya.

Namun Iver menyebutkan, selain pelaku mengakui perbuatannya dilakukan di rumah kontrakannya. Polisi menduga kondisi rumah dan perekonomian keluarga ikut memicu kejadian.

“Kemudian, pria yang berpenghasilan tiga jutaan ini, memang tinggal dengan istri dan anak-anaknya dalam satu kamar,” ungkapnya.

Pada bagian lain Iver menambahkan, aksi asusila sang ayah telah dilakukan sejak anak pertamanya berusia 11 tahun.

“Mengenai kelainan seks nanti kami akan berkoordinasi dengan ahlinya ya tentang perlu tidaknya dilakukan observasi. Kami juga akan berkoordinasi dengan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia),” tambahnya.

Namun pada bagian lain penjelasanya Iver membenarkan bahwa selain kerap melakukan aksi tidak senonoh terhadap anak pertamanya, pelaku juga merekam sang anak saat aksi asusila berlangsung.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap anak tertua yang berusia 11 tahun, pelaku ini mengaku sudah beberapa kali melakukan persetubuhan. Anaknya juga mengaku demikian. Bahkan, (anaknya) juga mengakui kerap mendapatkan perbuatan pencabulan,” ujarnya.

Namun, tak hanya dilakukan terhadap anak pertamanya, aksi yang sama juga dilakukan tehadap LU atau anak keduanya.

Sejauh ini polisi tidak menjelaskan reaksi sang ibu atau isteri pelaku selain menyampaikan bahwa pelaku sempat meminta maaf selain kepada kedua anaknya juga kepada isterinya.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.