Tegas dan Berani

Gunawan Jusuf Bos PT Makindo Dituduh Memalsu Surat Lantas Mengajukan Praperadilan

0

Gunawan Jusuf bersama dan Fauzi telah dilaporkan kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan surat oleh Walfrid Hot Patar S ke Bareskrim Polri, hal itu sesuai Nomor Laporan Polisi: LP/369/IV/2017/Bareskrim tanggal 7 April 2017. Kemudian, Polri menerbitkan Surat Perintah Penyidikan lanjutan Nomor: SP.Sidik/896 Subdit I/VI/2017/Dit Tipidum tanggal 22 Juni 2017.

Belakangan Gunawan Yusuf mengajukan praperadikan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang sudag dimulai pada Rabu, 10/1/2018.

Gunawan Jusuf adalah bos PT Makindo dan Presiden Direktur PT Sugar Grup yang mengelola bisnis tebu dan gula di Lampung.

Pada awal 2012 nama Gunawan Jusuf jadi pemberitaan media massa.  Ia diduga berada di belakang Penetapan status tersangka Kepala Bandara Soekarno Hatta dalam kasus pemalsuan dokumen keimigrasian seorang warga negara Singapura, Toh Keng Siong. Gunawan dan Toh tengah bersengketa dalam kepemilikan dana Toh yang senilai US$ 126 juta (Rp 1,13 triun) di tanam di deposito berjangka PT Makindo Sekuritas.

Karena belakangan tak bisa menarik dananya, Toh menyiapkan langkap hukum mempersoalkan secara perdata kepemilikan dananya di PT Makindo Sekuritas. Pada 2002, ia menggugat Gunawan, pemilik Sugar Group itu. Ia menunjuk Cakra & Co dan Lucas SH & Partners sebagai kuasa hukum. Makindo membantah pernah menerima deposito berjangka milik sang pengusaha. Surat kuasa buat dua kantor hukum ini dipersoalkan Kosasih, kuasa hukum Makindo.

Makindo menyerang keabsahan surat kuasa dari Toh. Sebab, menurut perusahaan ini, Toh tidak pernah datang ke Jakarta. “Surat Rochadi yang membenarkan Toh pernah datang ke Jakarta mengganggu mereka,” kata seorang pejabat. Surat yang dikirimkan Rochadi ke Cakra & Co dikirim pada 25 Maret 2011.

Di sana tercantum, Toh masuk Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 5 Agustus 2009 menggunakan pesawat Tiger Airways nomor penerbangan TR-272. Esoknya, Toh terbang kembali ke negaranya menggunakan KLM.Data ini dipersoalkan PT Makindo, perusahaan milik Gunawan Jusuf. Pemilik Sugar Group itu melaporkannya ke Polda Metro Jaya. Penyidik bergerak supercepat. Mereka menuduh Rochadi bersalah. Sebab, Toh belakangan diketahui kembali ke Singapura dengan pesawat Tiger Airways.

Perusahaan ini juga yang belakangan digunakan Toh untuk menyalurkan uangnya ke PT. Makindo Sekuritas milik Gunawan Jusuf sebesar US$ 126 juta (Rp 1,13 triliun). “Itu uang keluarga yang dihasilakn dari darah dan keringat kami”’ ujar Toh sambil mengingat perkataan pengacara Gunawan Jusuf, Hotman Paris Hutapea, bahwa bagi Gunawan, uang sebesar itu hanya cukup buat beli bakso.

Antara Gunawan Jufuf dan Toh sebenarnya teman dekat. Perkenalan antara Gunawan Jusuf dan Toh Keng Siong terjalin di tahun 1997. Setahun setelah itu di tahun 1998, saat terjadi huru-hara besar-besaran menjelang lengsernya Presiden Soeharto, Gunawan Jusuf menelpon Toh dari Jakarta. Pemilik Grup Makindo itu berniat mengungsikan keluarganya ke Singapura. Gunawan meminta Toh menjadi penjamin keluarganya selama tinggal di Negeri Singa. Toh yang sudah mengenal Gunawan sekitar setahun, kemudian mengiyakan permintaan Gunawan tersebut. Dengan jaminan dari Toh tersebut, keluarga Gunawan bisa tinggal di Negeeri itu selama dua tahun dan anak-anaknya diizinkan menempuh studi di sekolah Amerika Serikat di Singapura.

Sejak itu hubungan Gunawan dan Toh menjadi akrab, dan Gunawan masuk dalam keluarga besar Toh. Gunawan dikenalkan dengan ayah dan ibunya Toh. Sangking dekatnya, keluarga Toh sering mengunjungi keluarga Gunawan di kediamannyauntuk sekedar mengajak makan bersama atau menghabiskan libur akhir pekan. Tak disangka, hubungan dekat itu kini berakhir di meja sengketa.

Pada tahun 1999, Gunawan meminta Toh Keng Siong untuk menempatkan uangnya dalam bentuk Deposito berjangka di PT. Makindo Sekuritas. Toh tergiur dengan ujuk rayu dan iming-iming bunga hampir lima persen yang dijanjikan Gunawan. Untuk ukuran bunga bank di Singapura saat itu, rate ini cukup tinggi. Bahkan, untuk rupiah yang ditanam Toh, Gunawan menjanjikan bunga 14,3 persen.

Gunawan tak menjelaskan bagaimana dia bisa memberikan bunga yang lebih tinggi dibanding rata-rata bank saat itu. “This is my secret trade” ujar Gunawan. Toh tak curiga, hubungan baik keluarga telah membuatnya terlena. Apalagi jangka waktu deposito yang dipilih hanya satu bulan, investasi yang paling beresiko kecil.

Melalui perusahaanya yang berbasis di Hongkong, Aperchance Company Limited, sepanjang tahun 1999-2002 Toh mentransfer US$ 126 juta (Rp 1,13 trilyun) ke rekening Makindo. Transfer itu dilakukan melalui Merryl Lynch International Singapura, HSBC Singapura, dan BNP Paribas Hongkong ke rekening Makindo di Bank Credit Suisse Singapura, United Overseas Bank AG Singapura, dan HSBC Singapura. Dana itu ditransfer dalam berbagai bentuk mata uang : Rupiah, Dollar Amerika, Dollar Asutralia, Dollar Selandia Baru, Dollar Singapura, Dollar Hongkong, dan Euro.

Setiap uang kiriman Toh diterima, Makindo mengirim surat konfirmasi yang ditandatangani oleh Claudine Jusuf, Direktur Makindo yang juga istri Gunawan. Pada 9 Mei 2001, Claudine juga menandatangani surat untuk Aperchance Company Ltd, yang menyatakan Makindo akan memenuhi kewajibannyamembayar kembali uang itu setelah jatuh tempo kapanpun diminta. Gunawan mengklaim sudah memberikan bunga kepada Toh atas investasinya, namun pernyataan itu disangkal oleh Toh, “Not even one cent”, katanya.

 

Kecurigaan Toh kepada Gunawan terjadi saat Grup Makindo, melalui PT. Garuda Panca Artha membeli Sugar Group Companies dari BPPN pada tahun 2001. Apalagi nilai penjualan Sugar Grup mirip dengan jumlah uang yang ia titipkan ke Makindo. Toh mulai bertanya-tanya dari mana Gunawan mendapat uang sebesar itu untuk membeli Sugar Group. Padahal Gunawan tidak meminjam dari bank. Saat lelang BPPN terjadi, Sugar Group yang tadinya dimiliki oleh Salim Group ingin dibeli kembali oleh pemilik lamanya. Salim meminjam tangan Gunawan untuk membeli kembali asetnya tersebut. Akan tetapi saat pemasukan penawaran dilakukan Gunawan membelot dan menawar atas nama Grup nya sendiri. Keberanian Gunawan untuk membelot dari Salim dan membeli Sugar Group dari BPPN atas nama Makindo muncul setelah Gunawan bertemu dengan Fauzi Toha mantan salah satu Direksi Gula Putih Mataram (anak perusahaan Sugar Group) yang didepak oleh Salim karena melakukan penyimpangan. Saat itu Gula Putih Mataram masih milik Salim Group.

Pada November 2002, Toh menelpon Gunawan dan mengatakan ingin menarik semua uangnya. Gunawan terkejut, dia lalu terbang ke Singapura membawa istri, anak, beserta Rahmiati (alm) ibunya untuk menghadap Toh. Gunawan mengaku tak bisa membayar uang itu dan meminta tidak ditagih dulu. Setelah dua kali pertemuan di Singapura dan Jakarta, keduanya sepakat hutang itu akan dicicil US$ 5juta setiap bulannya. Akan tetapi Gunawan tidak menepati janjinya dan tak pernah membayar. Merasa ditipu, Toh memutuskan menempuh jalur hukum. Ia memperkarakan Gunawan ke pengadilan Singapura. Kembali Gunawan datang bersama keluarganya, mencium tangan Toh sambil meminta Toh menghentikan gugatannya. Terlanjur kesal, Toh tak memperdulikan permohonan itu. Pengadilan di Singapura mengeluarkan putusan Mareva Injunction. Maksudnya, pengadilan membekukan aset-aset tergugat (Gunawan) dan melarang tergugat memindahkan asetnya ke luar wilayah Tapi Toh kalah ditingkat banding. Hakim memutuskan kasus ini tidak bisa disidangkan di Singapura karena Makindo berbasis di Indonesia. Hubungan kedua saudara angkat ini pun memanas. Toh, melalui pengacaranya, mengumumkan putusan Mareva Injunction di media. Pengumuman itu dibalas Gunawan dengan melayangkan gugatan penghinaan terhadap pengadilan (contempt of court) kepada Aperchance.

Pada April 2004, Toh melaporkan kasusnya ke Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Tak pernah meminta keterangan Toh, polisi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) 3 bulan kemudian. Setelah itu, giliran Gunawan melancarkan balasan. Ia menggugat kuasa hukum Toh dengan tudingan membuat surat palsu. Bahkan ketika Aperchance mengajukan bukti baru (novum), Mabes Polri begitu saja mengabaikannya dan tidak mau membuka kembali SP3 dan melanjutkan penyidikan atas diri Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf. Padahal keduanya sempat dijadikan tersangka. Aperchance juga sempat melaporkan kasus hutangnya plus putusan pengadilan Singapura ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Direktorat Jenderal Pajak. Tapi lagi-lagi tak membawa hasil karena Gunawan saat itu tercatat sebagai salah satu penyandang dana terbesar untuk SBY dalam Pilpres 2004.

Leave A Reply

Your email address will not be published.