Tok , Lalu semaput

Vonis Kasus Korupsi Akaara Sunda

0

 

 

Suasana ruang sidang tindak pidana korupsi (Tipikor) Pengadilan Negeri (PN) Bandung pecah usai pembacaan vonis terhadap eks Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jabar Asep Hilman. Istri Asep, Yuli dan para kerabat histeris mendengar putusan majelis hakim.

Usai menjalani sidang vonis di PN Bandung di Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Jabar, pada Rabu 6 September 2017, Asep langsung berjalan menuju ke istrinya yang duduk di kursi pengunjung. Yuli istri Asep berteriak histeris sambil memeluk Asep. “Mana keadilan mana keadilan,” teriak Yuli di ruang sidang.

Sesaat setelah berteriak, tubuh Yuli terjatuh. Ia pingsan usai memeluk dan berteriak dengan lantang. Para kerabat Yuli, langsung menggotong Yuli untuk dibaringkan di kursi panjang ruang sidang.

Asep Hilman menangis di persidangan

 

Sesaat kemudian, giliran Asep yang pingsan. Pria yang menggunakan kemeja batik itu pingsan setelah sempat duduk di kursi pengunjung sidang. Asep terjatuh hingga ia berbaring di lantai ruangan.

Asep lalu dibopong oleh para kerabatnya. Ia langsung dibawa mobil ambulans milik Dokpol Polrestabes Bandung ke rumah sakit terdekat.

“Beliau tidak ada riwayat sakit. Cuma memang suka shock aja. Kemungkinan Bu Yuli dan Pa Asep dia shock,” ucap Iwan Hermawan salah seorang kerabat Asep.

Asep Hilman divonis 3 tahun bui. Ia terbukti melakukan tindak pidana korupsi pengadaan buku aksara sunda.

Vonis terhadap Asep dibacakan Majelis Hakim yang diketuai oleh Endang Mamun di Pengadilan Tipikor pada PN Bandung. Selain divonis 3 tahun bui, Asep juga diwajibkan membayar denda Rp 200 juta atau diganti kurungan 2 bulan penjara. “Mengadili dan menjatuhkan terdakwa tiga tahun penjara dan membayar denda sebesar 200 juta rupiah atau diganti dua bulan penjara,” ucap Endang saat membacakan amar putusannya.

 

Putusan terhadap terdakwa lebih rendah dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut terdakwa 5 tahun penjara.

Menurut majelis hakim, terdakwa terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus korupsi pengadaan Buku Aksara Sunda tahun anggaran 2010. Terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 3 Jo Pasal 18 UU Tipikor Jo Pasal 55 ayat satu ke satu KUHPidana.

Dalam persidangan, Majelis Hakim juga menyampaikan hal yang memberatkan dan meringankan. Hal yang memberatkan, terdakwa sebagai pegawai negeri sipil (PNS) tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi. “Sementara hal meringankan terdakwa belum pernah dihukum dan sudah berusia lanjut,” kata Endang.

Sementara itu, di luar ruang sidang, sejumlah orang dari organisasi massa (ormas) di Kota Bandung menaiki pagar Pengadilan Negeri (PN) Bandung yang berada di Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung. Massa berpakaian hitam kuning itu mendesak majelis hakim membebaskan Jabar Asep Hilman, terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan buku aksara Sunda, yang saat ini tengah menjalani sidang vonis.

Pendukung Asep ini memenuhi area jalan depan PN Bandung. Satu persatu dari mereka naik ke mobil bak terbuka untuk menyampaikan aspirasi. “Bebaskan Asep Hilman, dia tidak bersalah,” ucap orator melalui pengeras suara.

Tidak lama kemudian, beberapa orang dari kelompok massa tersebut menaiki pagar PN Bandung. Di atas pagar, mereka mengibarkan bendera berwarna hitam. Selain itu, asap pekat terlihat dari balik pagar PN Bandung. Di sisi lain, sejumlah polisi berpakaian lengkap telah bersiaga di hadapan massa. Kendaraan barracuda dan water cannon disiapkan polisi di area parkir PN Bandung.

Asep Hilman diboyong ke Lapas Sukamiskin, Kota Bandung. Asep ditahan di penjara tersebut pada Desember 2016 yang lalu. Sebelum dibui, Asep menjalani pemeriksaan di Kejari Bandung. Penahanan terhadap Asep dilakukan Kejari Bandung setelah mendapat pelimpahan dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar. Pihak Kejari Bandung ingin melakukan proses penindakan terhadap kasus dugaan korupsi pengadaan buku Aksara Sunda ini lebih cepat.

BPK Jabar telah mengeluarkan hasil audit kerugian negara dalam kasus ini yang angkanya mencapai Rp 3.980.826.013,00.

Asep Hilman membantah telah melakukan korupsi. Asep melalui tim penasihat hukum dari Biro Hukum Paguyuban Pasundan secara bergantian menyampaikan eksepsi. Intinya penasihat hukum menyebut kliennya tidak dapat dipersalahkan dan tidak dapat dihukum berdasarkan surat dakwaan tersebut.

Saim Aksinuddin, penasihat hukum Asep, menjelaskan bahwa kliennya tersebut tidak dilibatkan dalam proses lelang. Waktu itu, Asep selaku Kabid Dikmenti Disdik Jabar, tidak mengajukan usulan karena menurut Asep buku aksara Sunda dibutuhkan semua tingkatan sekolah mulai tingkat SD hingga SMA sehingga pihak yang layak mengadakannya ialah BPBD (Bagian Umum).

“Terdakwa selaku Kuasa Pengguna Anggarann (KPA) tidak mendapat delegasi dari PA dalam pengadaan buku aksara Sunda. Terdakwa juga tidak mengetahui adanya perubahan dalam Dipa Disdik yang ditetapkan 16 November 2010 sehingga tidak mempunyai tugas dan tanggung jawab serta kewenangan dalam pengadaan buku aksara Sunda tahun 2010,” kata Saim.

Soal pelaksanaan lelang mulai proses pengumuman, pelaksanaan hingga penetapan lelang pada 23 Oktober hingga 29 November 2010, sambung Saim, dilakukan sebelum penetapan APBD perubahan dan belum ditetapkannya Dipa perubahan (APBD perubahan 12 November 2010, Dipa perubahan tanggal 16 November 2010). Sehingga, kata Saim, pelelangan tersebut cacat hukum.

Sebab, Saim menambahkan, Asep waktu itu sebagai KPA dan PPK telah dibebastugaskan oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan untuk pendidikan. Hal tersebut dibuktikan dengan Surat Perintah Gubernur Jabar No.893.3/690/BKD/2010 pada 23 Agustus 2010. “Bebas tugas untuk mengikuti Diklatpim II mulai 29 September hingga 8 Desember 2010,” kata Saim.

Selain itu, Asep tidak mengetahui dan memegang user ID serta pasword dari ULP, karena itu tak memiliki kewenangan mengakses portal LPSE. Terdakwa Asep juga membantah menandatangani kontrak dalam pembayaran SPP LS, SP2D-LS serta kwitansi. “Jikapun terdapat tanda tangan dalam semua dokumen, sudah dibuktikan berdasarkan hasil labkrim ialah palsu. Jadi tanda tangan itu non identik atau palsu,” tutur Saim.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.