Bersimpuh di Kaki Ibu Setelah Divonis Mati

Sidang Kurir 270 Kg Sabu di PN Medan

0

 Irwan Toni alias Ruslan tak kuasa menahan tangis. Air matanya bercucur di pipi. Tubuhnya gemetar diguncang hisak duka yang penuh penyesalan. Pria asal Riau ini begitu terpukul dengan vonis mati yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Medan.

“Majelis menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Irwan Toni alias Ruslan dengan pidana mati,” kata ketua majelis hakim PN Medan, Saryana, Rabu (13/9/2017).

Irwan Toni dinyatakan telah melakukan perbuatan yang diatur dan diancam dengan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika karena mengirim 270 kg sabu-sabu asal China dari Dumai ke Medan.

Hakim menyebutkan terdakwa Irwan Toni berperan untuk mencari lokasi pergudangan dalam penyimpanan sabu seberat 270 kilogram asal China yang dikirim melalui Malaysia menuju Dumai pada 2015 silam. Dalam kasus ini, Irwan Toni diperintah Ayau untuk mencari gudang. Kemudian Irwan Toni berhasil menemukan lokasi pergudangan di kawasan Jade City Square Jalan Yos Sudarso KM 11,5 Kelurahan Titi Papan Kecamatan Medan Deli.

Namun saat pengantaran barang dengan menggunakan truk sekitar 17 Oktober 2015 lalu, petugas BNN langsung melakukan penggerebekan dan berhasil mengamankan sabu seberat 270 kilogram yang dikirim oleh Dicky Nugraha ke gudang tersebut. Saat penggerebekan, Irwan Toni berhasil kabur, sedangkan Jimmy tertangkap saat itu juga, lalu Ayau, Daud alias Athiam dan Lukmansyah.

Putusan majelis hakim sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sindu Hutomo dari Kejari Medan yang juga menuntut hukuman mati. Irwan Toni yang ditanya pendapatnya soal putusan itu langsung menyatakan akan melakukan upaya banding.

Sebelum majelis menggelar persidangan, Irwan Toni sempat bersujud di kaki ibunya, Iyem. Sang ibu yang baru tiba dari Kota Pinang, Labuhanbatu Selatan, Sumut, langsung memeluk erat anaknya itu. “Maaf ya mak, bukan aku bosnya. Ayau semua dan dia yang duluan mati,” ujar Irwan Toni sembari memeluk kaki ibunya.

Irwan Toni juga berulang kali mencium kaki ibunya. Ia seolah merasa tak lama lagi akan berpisah dengan ibunya. “Maafkan aku bu,” rintihnya sembari memeluk erat sang ibu.

Usai memeluk sang ibu, Irwan Toni menghampiri istri dan dua anaknya yang masih balita. Ia juga memeluk mereka dengan hisak tangis. Suasana menjadi histeris saat Irwan memeluk istrinya yang berlinang air mata. Dua anak balitanya turut menangis sejadi-jadinya. “Maafkan aku. Jaga anak-anak. Jangan sia-siakan mereka. Doakan biar terhindar dari hukuman mati,” ucap Irwan Toni tanpa melepas genggaman tangan dua anak balitanya.

Dalam perkara pengiriman 270 kg sabu-sabu ini, 4 terdakwa sebelumnya telah dijatuhi hukuman mati. Keempatnya yaitu Daud alias Athiam, pengusaha jasa pengiriman asal Bengkalis, Riau,Ayau, warga Bengkalis, Riau, Lukmansyah Bin Nasrul, dan Jimmi Syahputra Bin Rusli, warga Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut. Pengiriman sabu-sabu ini dibongkar Badan Narkotika Nasional (BNN) pada 17 Oktober 2015.

Empat terdakwa kasus 270 kilo sabu yang sebelumnya divonis mati (dari kiri ke kanan) Daud alias Atiam, Ayau, Jimi Saputra Bin Rusli, dan Lukmansyah bin Nasrul saat sidang di PN Medan Senin (22/2/2016).

(ZAINUL ARIFIN SIREGAR/Medan)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.