Delapan Tahun Bui Untuk Patrialis Akbar

Lebih ringan dari tuntutan Jaksa yang 12,5 tahun

0

 

Delapan tahun di bui bukan sebentar, walau lebih ringan dari tuntutan jaksa. Itulah hadiah untuk Mantan hakim konstitusi Patrialis Akbar. Dia divonis 8 tahun penjara. Patrialis terbukti melakukan tindak pidana korupsi saat menjadi hakim konstitusi. Ketua majelis hakim Nawawi Pamolango membacakan putusan kasus suap kepada Ketua Mahkamah Konstusi tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (4/9/2017).

Adapun penyuap Patrialis divonis terlebih dahulu pekan lalu, yaitu Basuki Hariman dihukum 7 tahun penjara dan Ng Fenny selama 5 tahun penjara. Basuki dan Ng Fenny terbukti menyerahkan uang dengan total USD 50 ribu kepada Kamaludin, orang dekat Patrialis. Uang diberikan terkait penanganan perkara judicial review UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan di MK.

Hakim menyimpulkan, dari total USD 50 ribu yang diberikan kepada Kamaludin, USD 10 ribu di antaranya telah diserahkan kepada Patrialis untuk biaya umrah.

Vonis itu lebih rendah dibanding dengan tuntutan jaksa penuntut uyang meminta agar Patrialis divonis dituntut 12,5 tahun penjara ditambah dengan Rp500 juta subsider 6 bulan kurungan.

Patrialis Akbar Ketika diciduk KPK

 

Namun Patrialis Akbar berkeras bahwa ia tidak bersalah meski telah divonis terbukti menerima suap 10 ribu dolar AS dan Rp4,043 juta oleh majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor).

“Saya mengatakan dalam pembelaan saya, saya tak salah, sekarang hakim mengatakan saya salah. Saya sekarang tak mau memberikan penilaian karena ini otoritas hakim untuk memutuskan. Saya menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa Allah SWT untuk menilai mana yang benar mana yang tidak,” kata Patrialis usai menjalani sidang di pengadilan Tipikor Jakarta, Senin.

“Saya ini tak makan uang negara, tidak makan uang fakir miskin, tidak makan uang bansos dan tidak makan uang rakyat. Anda bayangkan orang-orang yang makan uang negara, yang mengembalikan uang negara puluhan miliar berapa hukumannya. Coba anda kompensasi sendiri dengan akal sehat dengan saya yang tak makan uang negara dan itu pun dalam perbedaan pandangan antara saya dan hakim. Saya sekali lagi tak ingin menilai putusan hakim, saya hanya serahkan ke masyarakat apa yang sebenarnya terjadi dalam diri saya,” ungkap Patrialis.

Patrialis mengaku bahwa hukuman yang ditimpakan ke dirinya adalah sebagai cara Tuhan agar ia dapat memperbaiki diri.

“Saya punya kesalahan masa lalu, akumulasi kesalahan itu agar saya kembali ke jalan Allah, jadi ini saya yakini takdir dalam perjalanan hidup saya. Saya diingatkan dengan cara begini bukan tiba-tiba dengan ajal saya dijemput dan saya tetap punya komitmen membantu negara ini dengan melakukan tindak pidana korupai. Sekali lagi saya katakan kita punya ujian, cobaan dan musibah,” tambah Patrialis yang dalam sidang didampingi oleh istri dan anak-anaknya.

Namun Patrialis tidak secara tegas mengatakan akan langsung mengajukan banding.

“Saya sudah tegaskan saya dengan pengacara saya mau pikir-pikir dulu, saya tak mau mencela putusan hakim,” ungkap Patrialis.

Dalam putusannya majelis hakim yang terdiri atas Nawawi Pamolango, Hariono, Hastono, Ugo dan Titi Sansiwi menilai bahwa Patrialis Akbar terbukti menerima uang Basuki Hariman selaku sebagai “beneficial owner” (pemilik sebenarnya) perusahaan PT Impexindo Pratama dan dari General Manager PT Impexindo Pratama Ng Fenny melalui seorang perantara bernama Kamaludin untuk mempengaruhi putusan Perkara Nomor 129/ PUU-XIII/ 2015 terkait uji materi atas UU No 41 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

You might also like More from author