Kerincing Merah

HAYUNING NUSWANTARI
Kriminologi UI 1206220932

Hari ini hujan turun deras dan sangat tak sebanding dengan panas yang baru saja membuat daerah itu seperti padang pasir. Andre, seorang detektif berumur 46 tahun, Sudah 8 jam menghabiskan waktunya di kantor selain karena cuaca yang buruk ia harus menelaah data-data sebuah kasus pembunuhan berantai yang terjadi di kotanya belakangan ini. Dari 5 kejadian yang terjadi, tidak terlihat sama sekali pola yang terbentuk, semuanya seakan terjadi dengan spontan dan tanpa rencana. Korban pertama, anak perempuan berusia 8 tahun yang di temukan dengan leher tersayat dan tubuh kecilnya seakan mengambang di kubangan darah, ditemukan di rumahnya yang hanya selisih satu jalan dari taman kota. Banyak dugaan pelaku dalam kasus ini, termasuk orang tua gadis kecil ini yang setelah seminggu kematian anaknya sang ayah mencoba mengakhiri hidupnya, ayah mana yang tak sedih melihat putri kecil kesayangannya mati dengan cara seperti itu dan entah karena apa Andre tahu laki-laki itu tak bersalah, setelah itu hasil penyelidikan mengatakan hal yang sama. Korban kedua merupakan seorang laki-laki paruh baya yang tidak memiliki apa-apa dan dapat disebut gelandangan, di temukan meninggal di sebuah danau di taman kota pada hari minggu pagi. Ia ingat jelas temuan mayat itu seperti tontonan yang menarik bagi warga yang sedang beraktivitas disana. Korban ketiga, seorang penulis puisi cantik tergantung di kamar apartemennya yang terletak di pinggir kota, dari kejadian yang ada pelaku jelas tidak berusaha membuat kematian ini sebagai bunuh diri. Korban ke empat pegawai toko buku yang berada di gang 67, dan korban kelima salah seorang anggota kelompok corat-coret tembok yang biasa melakukan aksi mereka di taman kota atau di stasiun mereka semua berasal dari kalangan yang berbeda, kelas sosial berbeda dan tak pernah saling mengenal satu sama lain, satu-satunya yang menunjukan bahwa hal tersebut adalah pembunuhan berantai adalah lambang lingkaran dengan sebuah bintang di tengah nya yang ada di setiap pembunuhan yang terjadi. Lambang itu kadang ditulis dengan darah dilantai seperti pada kasus pertama, dan kadang tertulis di pakaian korban seperti korban kasus ke tiga. Sebuah lambang sederhana yang ia rasa tak asing baginya namun ia lupa kapan ia melihat lambang itu. Andre memutar kursinya saat tiba- tiba telefonnya berdering.
“ya?” jawabnya sesaat setelah ia mengangkat telefon.
“ bisa keruangan ku sekarang?” tanya suara dari seberang telefon. John, pemimpin divisi penyelidikan yang sudah dua hari ini gerah dengan pemberitaan media yang mengatakan bahwa kota itu merupakan sarang pembunuhan.
“ ada yang sedang saya kerjakan pak, sepertinya saya tidak…”
“ kasus ke enam terjadi di gang 28 pukul 8 pagi tadi. Apapun pekerjaan yang kau lakukan saat ini, kuharap tak lebih penting dari menangkap seorang pembunuh berantai yang dapat melakukan aksinya di jam padat dan tidak ada satupun dari kita yang mendapat informasi akan hal ini.” Andre tahu dari nada bicara nya John sangat marah.
“ ambil jaketmu dan pergi ke tempat kejadian sekarang, kita sudah terlambat 3 jam, waktu yang cukup untuk para wartawan itu dapat membuat novel horror dari kejadian hari ini.” kata john kesal dan langsung menutup telefonnya. Andre menghela nafas dan mengambil jaketnya. Tidak ada yang lebih buruk dari hari ini menurutnya, setelah memanggil rekannya Sania, mereka pun beranjak pergi ke lokasi.

Di dalam perjalanan..
“ sudah ada 5 petugas di sana, korban seorang laki-laki dengan luka tusuk di leher dan pinggang, mayat sudah di pindahkan yang kita lakukan nanti adalah penelusuran TKP. Jessica dan Dony sudah bersama tim forensik, jadi nanti kita minta saja apa yang mereka temukan disana.” kata sania sambil membaca laporan dari gadget yang di bawanya. John mengangguk menyetujui semua yang di laporkan oleh Sania.
“ hari ini tidak akan mudah”
“ ya, aku rasa juga begitu.” kata sania sambil menunjuk telefon genggam Andre yang bergetar saat telefon masuk. John kemudian mengangkatnya
“ tidak sekarang dylan.. Ayah sedang bekerja.” kata andre tak melepas pandang dari jalanan. Dylan, anak pertama Andre dari pernikahannya dengan seorang perempuan cantik bernama Amara yang kandas saat anak kedua mereka Danny, menginjak umur 15 tahun.
“ aku bahkan belum memberitahumu apa-apa ayah. Kampus Danny memberimu surat untuk hadir membicarakan masalah Danny. Mereka ingin kau dan ibu datang.” kata dylan suaranya terdengar di seluruh mobil karena speaker telefon genggamnya dalam keadaan volume penuh.
“ kapan? Minggu ini ayah sedang sibuk”
“ Rabu minggu ini, pertemuannya tidak lama, ibu tidak bisa hadir ia sedang di luar kota.”
“ Ayah bilang minggu ini tidak bisa. Kamu saja yang wakilkan kami berdua. Apa lagi sih yang ia perbuat di kampus?” kata andre kesal, ini sudah ke tiga kalinya dalam bulan ini ia mendapatkan surat dari sekolah Danny, walaupun ia tak pernah datang ia samgat kesal.
“Aku tidak tahu tapi sepertinya ia terlibat perkelahian dengan seseorang. Kau dan ibu tidak pernah bisa datang dari awal surat itu di berikan. Namun Danny sudah bilang padaku ia ingin ayah dan ibu yang datang kali ini, setidaknya ayah bisa datang.”
“ berapa kali ayah harus bilang padamu Dylan? Ayah sedang dalam tugas dan ini penting. Kau tahu kasus pembunuhan yang belakangan ini terjadi? Banyak nyawa yang akan melayang kalau ini tidak dengan segera di selesaikan.”
“baiklah, aku yang akan ke kampus Danny. Tapi aku minta tolong pada ayah, sisakan sedikit waktu saja untuk Danny. Sudah lama ia berharap bisa berbincang-bincang tentang masalahnya dengan ayah.” kata dylan sebelum akhirnya menutup telefonnya. Andre sempat berfikir apa sebenarnya masalah yang di hadapi oleh Danny. Namun itu hanya fikiran sesaat yang kemudian kembali tertutup oleh kasus pembunuhan berantai itu. Mereka sampai dan masuk ke gang 28, beberapa mobil polisi terlihat di depan sebuah gedung, Andre dan Sania melihat sebuah tanda putih letak dimana mayat tersebut pertama kali di temukan. Beberapa barang yang ada di sekitar lokasi yaitu sebilah pisau yang diduga sebagai alat pembunuhan sama sekali tak memiliki petunjuk apapun, hanya darah korban ynag masih ada disana. Setelah tempat kejadian perkara bersih dari barang bukti dan semua petunjuk, mereka berpindah ke kamar korban yang ada di apartment yang berdiri tepat di sebelah gang tersebut.

You might also like More from author

Comments are closed.