Mengenal Pedofilia Lebih Dalam

Hukuman penjara perlu dipadukan dengan penanganan medis dan psikologis.

0

 

 

Mengingat dampak yang begitu panjang dan beruntun, pedofil perlu ditangani secara serius. Hukuman penjara perlu dipadukan dengan penanganan medis dan psikologis.

Sejarah mencatat pada zaman Renaissance, pedofilia muncul dalam banyak karya seni. Michelangelo dan Benvenuto Cellini termasuk yang cukup sering menampilkan percintaan antara laki-laki dewasa dan anak laki-laki dalam patung dan lukisan mereka. Ada dugaan saat itu pedofilia memang jadi tren di kalangan seniman meski tidak ditunjang bukti-bukti kuat.

blogspot.com//Baekuni atau Babe, dihadirkan dalam jumpa pers Polda Metro Jaya di Jakarta

Pada awal abad ke-20, isu pedofilia berpindah dari kalangan seniman ke pendidik. Adalah Gustav Wyneken guru pertama yang diadili akibat tindakan pedofilia yang ia lakukan terhadap muridnya. Bersama pendidik lain yang juga pedofil, ia mengatasnamakan perbuatannya sebagai wujud pedagogical eros, yakni bahwa cinta erotis pria dewasa dibutuhkan untuk mendewasakan anak laki-laki.

Namun selama berabad-abad, para pedofil memang tidak terjangkau oleh hukum. Baru ketika sebagian dari mereka membunuh korbannya, atau keluarga korban melaporkannya, kasus-kasus ini mulai menjadi perhatian masyarakat. Ada yang bisa kita tangkap dari hal ini yakni memang tidak semua pedofil melakukan pembunuhan seperti Babe atau Robot Gedek yang kasusnya juga sempat menghebohkan beberapa tahun lalu.

Richard Lanyon, psikolog dari Arizona State University mengelompokkan pedofil ke dalam tiga tipe. Pedofil tergolong tipe situational molester jika masih memiliki ketertarikan seksual dengan orang dewasa. Hanya saja dalam situasi tertentu, mereka memiliki hasrat pedofilia dan melakukan tindakan pedofilia sebagai upaya mengatasi rasa tertekan.

Seseorang tergolong sebagai preference molesters jika tertarik secara seksual hanya kepada anak-anak. Kalaupun mereka menikah, hanya untuk menutupi kondisi mereka yang sebenarnya. Mereka tidak merasa ada yang salah dengan pedofilia, bahkan menganggap masyarakat yang bersikap berlebihan.

Robot Gedeg/ kasus sodomi di dalam sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan/ LP Permisan Nusakambangan, Jawa Tengah [ Bernard Chaniago/ TEMPO
Pedofilia juga perlu dibedakan dari homoseksual. Tidak semua pedofil memiliki orientasi seksual terhadap anak yang sama jenis kelaminnya dengan mereka. Data statistik menunjukkan bahwa pedofilia yang berorientasi homoseksual hanya sepertiga dari jumlah pedofilia keseluruhan.

Penyebab pedofilia perlu dipahami dari aspek biologis, psikologis, dan sosial, yang saling terkait. Secara biologis memang belum ditemukan pola genetik yang khas pada para pedofil. Namun diyakini bahwa pedofilia disebabkan oleh tingginya hormon testosteron yang merupakan hormon seks laki-laki. Pandangan ini masuk akal mengingat 95 persen pedofil berjenis kelamin laki-laki.

Dari sudut psikologis, pengalaman masa kanak-kanak sebagai korban pedofilia ditengarai sebagai penyebab utama seseorang menjadi pedofil. Mereka belajar dengan mengamati bahwa kepuasan seksual dapat diperoleh dari anak- anak. Bisa jadi pula mereka rendah diri menyadari dirinya adalah korban pedofilia. Akibatnya mereka cenderung menutup diri dan pergaulan pun jadi terbatas.

Terkait dengan hal di atas, kurangnya keterampilan untuk membina hubungan akrab dengan orang lain juga menjadi salah satu penyebab pedofilia. Mereka tidak dapat menjalin hubungan intim dengan orang dewasa yang sebaya. Dalam kondisi ini, tidak ada yang lebih nyaman selain berinteraksi dengan anak-anak, yang mudah didekati tanpa melakukan perlawanan sebagaimana dahulu yang terjadi pada mereka.

Harga diri yang rendah juga menjadi faktor penyebab. Mereka merasa tidak memiliki kelebihan, atau merasa gagal dibandingkan dengan pasangan atau teman-temannya. Menguasai anak, mengancam, dan memanipulasinya, merupakan suntikan bagi harga diri para pedofil. Orang yang merasa rendah diri juga mudah mengalami depresi dan kecemasan. Dalam kondisi ini, melakukan pelecehan seksual terhadap anak dijadikan cara melepaskan ketegangan.

Dari segi sosial ditemukan pelaku pedofilia kebanyakan berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah. Sebagian bahkan tidak memiliki pekerjaan. Ditambah dengan tingkat pendidikan yang umumnya kurang memadai, mereka sulit menemukan cara penyelesaian masalah yang efektif. Akibatnya mereka mudah terkena stres dan menggunakan anak untuk mengatasi rasa tertekan atau ketegangannya akibat stres.

Pedofilia adalah penyimpangan seksual yang paling meresahkan karena korbannya anak-anak. Dampaknya secara luar biasa mengubah kehidupan korban. Apalagi kebanyakan pelaku adalah orang yang dekat dengannya. Ketidakmampuan mempercayai orang lain, rendahnya harga diri, ketakutan untuk menjalin hubungan akrab dengan lawan jenis, ketergantungan obat-obatan, depresi, hambatan seksual, atau sebaliknya berlebihan dalam hal seksual, dan gangguan lainnya dapat dialami korban. Bukan tidak mungkin, korban akan menjadi pedofil dan menimbulkan korban-korban baru.

Mengingat dampak yang begitu panjang dan beruntun, pedofil perlu ditangani. Hukuman penjara perlu dipadukan dengan penanganan medis dan psikologis. Menurunkan level testosteron dan memberikan lutenizing hormone-releasing hormone (LHRH) adalah penanganan medis yang sering dilakukan untuk menurunkan dorongan seks dan ereksi. Tetapi dua terapi ini tidak mengurangi ketertarikan pedofil terhadap anak.

Penanganan psikologis dapat dilakukan dengan meminta pedofil berfantasi tentang anak lalu memberikannya obat yang menimbulkan rasa mual pada saat itu juga. Lama kelamaan pelaku akan menganggap hasrat seksual terhadap anak itu tidak menyenangkan.

Pedofil juga dapat diterapi dengan mengubah pola pikirnya. Mereka diminta berfantasi seksual tentang anak namun mengubah akhir cerita sekreatif mungkin asalkan bukan lagi berhubungan seksual dengan anak.

Pedofil juga perlu dibantu untuk menentang pemikiran mereka yang tidak masuk akal seperti menyalahkan anak yang dianggapnya sengaja menggoda dan membenarkan tindakan mereka sebagai cara mendidik anak tentang seks. Pedofil juga perlu dibantu untuk menemukan akar masalahnya. Mereka yang terbatas dalam keterampilan interpersonalnya harus belajar mengembangkannya. Mereka juga perlu meningkatkan harga diri dengan menemukan dan mengolah kelebihannya. Kemampuan mengelola stres dan menyelesaikan masalah juga perlu diajarkan.

Yang menarik, baik pedofil maupun laki-laki normal ternyata sama-sama meningkat gairahnya saat ditayangkan adegan seksual yang melibatkan anak-anak. Laki-laki normal juga dapat berfantasi seksual mengenai anak dan gairahnya meningkat saat berfantasi. Namun tidak semua melakukan tindak pedofilia. Jadi tampaknya ada persoalan kontrol diri dalam masalah pedofilia.

Bahwa ada orang yang dapat mengontrol impuls seksualnya terhadap anak memberi warna dalam penanganan pedofilia. Pedofil dapat diajarkan untuk mengenali situasi yang biasanya memicu hasrat seksual mereka terhadap anak-anak. Jika situasi ini terjadi, mereka dapat melakukan kegiatan positif untuk menyalurkan energinya. Bisa dengan berolah raga, berkebun, membersihkan kendaraan, atau kegiatan lainnya.

Mereka juga dapat dilatih mengembangkan empati dengan memikirkan dampak perbuatannya baik pada anak, dirinya, maupun keluarga. Saat dorongan itu muncul, mereka bisa melakukan yang namanya self-talk atau bicara pada diri sendiri untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan tersebut. Mereka juga dapat dilatih teknik relaksasi untuk menurunkan tingkat ketegangan saat hasrat mereka terhadap anak muncul.

Sayangnya, tingkat keberhasilan penanganan pedofilia sangat kecil. Namun bahwa ada juga pedofil yang dapat mengatasi gangguan mereka memberi harapan bahwa gangguan ini dapat disembuhkan. Hanya saja dibutuhkan evaluasi terhadap berbagai terapi yang sudah dijalankan.

Terapi untuk pedofilia belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karenanya, masyarakat perlu membantu untuk mengembangkan kesadaran bagi para pedofil untuk menjalani terapi. Mungkin kita akan memandang jijik dan takut terhadap mereka. Tetapi sikap ini tidak akan membantu. Sedapat mungkin jika kita melihat orang yang tampaknya mengalami pedofilia, dekatilah dia, berikan nomor lembaga konseling yang dapat ia hubungi

You might also like More from author