Komplotan Pedofil Jaringan Internasional Lewat Facebook Dibongkar Polisi

Sindikat Internasional Pelaku Pedofil Berhasil diungkap penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya

0

 

Lima bulan lalu, polisi berhasil membongkar jaringan online komunitas pedofil official Loli candy’s Group yang terhubung dengan 11 grup kejahatan terhadap anak pada beberapa negara dengan jumlah anggota mencapai ribuan.

Sindikat penjahat kelamin terhadap anak di bawah umur atau kerap disebut Pedofil jaringan internasional berhasil diungkap penyidik Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, pertengahan Maret 2017 lalu. Melalui media Facebook yang dinamakan Official Candy’s Group, sindikat itu menyebarkan konten pornografi dan merauk keuntungan sebesar Rp 15.000 per klik.

Kapolda metro jaya, irjen pol m iriawan saat menggelar jumpa pers terkait pengungkapan kasus pedofil anak jaringan internasional (tribunnews.com/

 

Polisi mengemukakan pengelola facebook itu terhubung dengan 11 grup kejahatan terhadap anak pada beberapa negara dengan jumlah anggota mencapai ribuan. Berdasarkan penyidikan kepolisian terungkap terdapat 500 video dan 100 foto berkonten kekerasan terhadap anak pada akun grup facebook.

Empat orang tersangka yang ditangkap berprofesi sebagai admin grup sekaligus member. Mereka yakni Wawan alias Snorlax (27), Illu Inaya alias DS (24), DF alias TK alias DY (17), dan SHDW alias SHDT (16).

Selain melalui Facebook, komplotan ini juga sering berbagai gambar konten pornografi melalui aplikasi Whatsapps.

Kapolda Metro Jaya, yang saat itu dijabat Irjen Mochamad Iriawan mengatakan, kasus kekerasan terhadap anak telah dilakukan oleh para pelaku. Untungnya, penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya berhasil membongkar kasus pornografi online spesialis anak.

“Kita ungkap kejahatan pornografi terhadap anak baik sesama maupun lawan jenis secara online. Dari sini kita tangkap empat orang,” ujar Iriawan di Mapolda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Selasa 14 Maret 2017.

Dia menjelaskan pelaku DF yang berusia 17 tahun sudah memangsa 6 anak. Dimana, korbannya berusia antara 3 tahun sampai 8 tahun. “Dua di antaranya merupakan keponakannya sendiri, selebihnya tetangganya,” ucap Iriawan.

Sedangkan Wawan, yang diketahui sebagai pembuat grup pornografi anak ini telah melakukan kejahatan terhadap dua korban. Masing-masing korbannya masih berusia 8 dan 12 tahun.

Official Candy’s Group sejak dibentuk pada September 2016. Grup tersebut itu memiliki anggota mencapai 7.000 lebih. Ada beberapa syarat yang harus diikuti oleh setiap member grup ini. Para member harus aktif mengirimkan gambar atau video perbuatan seksual dengan anak kecil di grup tersebut.

“Kemudian posting video atau gambar porno yang belum pernah di-upload, jadi korbannya bertambah tidak boleh gambar yang sama,” ucap Iriawan.

Polisi saat ini terus memburu member-member lain yang turut melakukan kejahatan seksual terhadap anak. Polisi bahkan telah bekerjasama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) karena grup ini telah terkoneksi secara internasional.
“Ini terkoneksi secara internasional, di mana banyak member dari Amerika Latin, seperti Peru, Argentina, Meksiko, Chili, Kolombia, Amerika. Nanti kita buka bersama FBI, karena banyak akun yang sudah diblok,” kata Iriawan.

Petugas pengadilan menggiring warga Australia, Robert Andrew Fiddel Ellis (tengah) saat akan menjalani sidang perdana kasus pedofilia di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (23/6). Warga Australia yang ditangkap sekitar bulan Januari 2016 karena dugaan pencabulan belasan remaja di Bali itu proses persidangannya belum bisa berjalan karena terdakwa tidak didampingi penasihat hukum. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc/16.

 

Para pelaku dijerat dengan Pasal 27 ayat 1 Jo Pasal 45 ayat 1 UU No 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 4 ayat 1 Jo Pasal 29 dan atau Pasal 4 ayat 2 Jo Pasal 30 UU No 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Mereka terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur mengatakan fokus dari Kementerian PPA adalah memulihkan trauma dari para korban. Apalagi sudah ada Undang-Undang Perlindungan Anak (PPA) yang disebut restitusi.
“Karena ada kejahatan ini berbasis ekonomi. Ada suatu korporasi yang mendulang keuntungan. Mereka harus bertanggungjawab untuk penanganan korbannya. Restitusi bisa diajukan dari proses penyidikan. Kami akan diskusi dengan unit PPA, kami dampingin untuk restitusi,” kata pria yang akrab disapa Budi.

Ketika ditanya hukuman yang tepat bagi para pelaku, kata dia, kebiri bukanlah solusi dalam memutus mata rantai pedofilia, Apalagi, para pelaku masih dibawah umur.

“Bagaimana keputusan hakim itu bukan hukuman itu tindakan kebiri dan suntikan dan juga pemasangan chip rehabilitasi itu berupa tindakan itu keputusan hakim yang penting hukumannya itu. terutama yang pelaku dewasa,” tutur dia.

Dia mengatakan siklus kejahatan pedofil karena korban pernah mengalami hal serupa.
Seperti kekerasan yang terus dirasakan pada saat masih kecil. Sehingga, perlu diputus mata rantai tersebut.

“Kalau tidak diputus mata rantainya nanti akan terus muter. Apalagi dalam budaya kita anak laki tidak suka bercerita nganggap dirinya kuat. Itu bahaya apabila orangtuanya juga gak perhatian. makanya penting orangtua meluangkan sehari 20 sampai 30 menit sehari untuk ngobrol,” tutur dia.

Pemerhati anak, Seto Mulyadi, menilai kasus terbongkarnya komunitas pedofil tersebut sebagai puncak gunung es dari banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak, terutama melalui dunia maya. Karena itu, ia berharap penggunaan internet oleh anak harus lebih dibatasi dan diawasi.

“Orangtua banyak yang sibuk dengan kegiatan mereka. Sudah jarang orangtua yang mendongengkan anaknya, bahkan makan bersama pun sudah sangat jarang. Akhirnya, anak-anak lebih memilih gadget dan internet tanpa sadar ada bahaya yang mengintai mereka,” tutur Kak Seto saat dihubungi FORUM beberapa waktu lalu.

Bukan hanya orangtua atau keluarga saja, Kak Seto berharap lingkungan sekitar seperti RT dan RW juga bisa mengawasi dan ikut menjaga anak-anak dari kejahatan seksual maupun bahaya lainnya. Selain itu GN-Aksa Gerakan Nasional Anti Kekerasan Seksual terhadap Anak juga harus lebih dimaksimalkan.

Ia juga berharap hukuman terhadap pelaku pedofil bisa dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang atau peraturan yang sudah berlaku, salah satunya dengan cara kebiri kimiawi. Kak Seto juga berharap pelaku pedofil yang sudah terbukti bersalah di pengadilan bisa diekspos wajahnya. Hal itu bukan saja menjadi hukuman sosial atau menimbulkan efek jera bagi para pelaku pedofil.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menjelaskan kalau kaum pedofil seringkali memposisikan diri sebagai sosok pelindung bagi anak, meski sejatinya hal tersebut merupakan modus kejahatan.

“Jangan sampai anak minus perhatian sehingga mencari sosok lain yang ternyata kaum pedofil. Pedofil seringkali memposisikan diri sebagai sosok pelindung bagi anak, meski sejatinya itu modus kejahatan,” tegas Susanto seperti dikutip dari Antara.

Lebih jauh tentang pedofilia, dilansir dari KlikDokter, dr. Dewi Ema Anindia menuliskan bahwa pedofilia sendiri adalah seseorang yang miliki keinginan atau hasrat seksual terhadap anak-anak. Biasanya anak-anak tersebut berusia di bawah 13 tahun.

American Psychiatric Association (ACA) mengatakan bahwa pedofilia merupakan suatu gangguan jiwa dan dimasukkan dalam kumpulan kelainan yang dinamakan Parafilia. Lalu, apa sih penyebab pedofilia sendiri?

Hingga sekarang, belum ada yang mengetahui penyebabnya. Namun, beberapa teori menunjukkan bahwa penyebabnya sendiri adalah kombinasi dari gangguan biologis, sosial, perkembangan, sosial, dan faktor psikososial.

SWU

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.