Tegas dan Berani

Proyek Jembatan Ulim Opritnya Ambrol Diduga Penyelesaianya Molor

Proyek Jembatan Ulim di desa Batu Petumpang kecamatan Pulau Besar kabupaten Basel (Romli Muktar)
0

Forumkeadilan.com, Bangka Selatan — Pembangunan proyek jembatan Ulim di desa Batu Petumpang kecamatan Pulau Besar kabupaten Basel menuai sorotan. Pasalnya proyek pembangunan jembatan yang hingga saat ini masih berlangsung pekerjaanya namun dinding opritnya sudah ambrol disertai timbunan tanahnya ambles.

Ambrolnya dinding oprit yang disertai amblesnya timbunan tanah pada sayap jembatan itu ditenggarai akibat pembangunannya dikerjakan secara terburu buru guna mengejar target waktu penyelesaiannya disamping kurangnya pengawasan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perhubungan kabupaten Bangka Selatan.

Proyek milik dinas PUPR kabupaten Bangka Selatan yang menelan dana hampir Rp.11 milyar bersumber dari APBD kabupaten Basel TA 2017 ini seharusnya selesai 30 Desember 2017 namun hingga saat ini belum juga dapat dirampungkan pekerjaannya.

Lantaran tak ingin kena sanksi denda dan diblack list, pihak kontraktor kabarnya mengebut pekerjaan pembangunan jembatan tersebut guna dapat menyelesaikan pekerjaannya. Namun sayangnya pekerjaan secara terburu buru justru berakibat fatal.

Dalam pantauan sejumlah wartawan,  Senin (8/1/2018) siang kemarin, dinding sayap jembatan sebelah kiri terlihat sudah ambrol disertai timbunan tanahnya juga ambles. Menurut salah satu sumber  mengatakan hal itu terjadi diduga kuat penyebanya dinding oprit tidak kuat menahan beban timbunan tanah. Lantaran dinding oprit  kondisinya sudah menggelembung yang menunjukan kwalitas beton dan pembesian sangat buruk. Selain itu terlihat dinding oprit menggantung di atas permukaan tanah, menunjukkan kekuatan dinding oprit sama sekali tidak memiliki kekuatan.

“Jadi kuat dugaan kalau pelaksanaan pekerjaan jembatan yang menelan dana hampir Rp. 11 milyar perencanaannya kurang matang. Atau perencanaannya sudah mateng namun pekerjaan yang dilaksanakan diduga terjadi pengurangan volume sehingga hasilnya jauh dari yang diharapkan,” ungkap sumber.

Selain itu, pekerjaan hotmik pada badan jalan juga dipertanyakan  lantaran kondisi jalan di beberapa titik lapisan aspalnya sudah mulai retak dan menganga.

“Hal ini diduga disebabkan kadar aspalnya kurang dan gelar campuran aspal suhunya tidak memenuhi syarat sehingga campuran aspal menjadi regas dan faktor lainnya tanah dasarnya belum memenuhi syarat kepadatannya sehingga lapisan aspalnya mudah retak dan menganga,” demikian kata sumber yang cukup berpengalaman di bidang kontruksi jembatan.

Proyek Jembatan Ulim di desa Batu Petumpang kecamatan Pulau Besar kabupaten Basel (Romli Muktar)

Beberapa warga setempat yang dimintai keterangan terkait kwalitas proyek pembangunan jembatan penghubung tersebut, Senin (8/1/2018) sepakat menyayangkan  pekerjaan proyek yang didanai APBD Kab. Basel TA 2017 dengan dana Rp.10.884 Milyar yang dikerjakan oleh PT Karuniaguna Intisemesta, dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender sejak 24 Juli 2017 dan berakhir 30 Desember 2017 terkesan terburu buru sehingga pihak kontraktor kurang memperhatikan kwalitas pekerjaannya.

“Sayang pak, proyek yang menelan dana sebesar itu tapi kwalitasnya  kurang diperhatikan. Hal ini terlihat saat ini dinding sayapnya ambrol akibatnya timbunan tanahnya ambles, padahal belum dilalui kendaraan bertonase tinggi. Apa tidak ngeri nantinya kalau sudah dilalui kendaraan bertonase tinggi,” ungkap warga setempat.

Dikonfirmasi terpisah di ruang kerjanya, Camat Pulau Besar kabupaten Basel, Sunandar mengakui kalau amblesnya oprit jembatan itu belum mendapatkan info dari bawahannya.

“Belum dapat info. Terimakasih karena dari wartawan lah kita dapat info terkait kondisi jembatan itu. Hari ini juga saya akan perintahkan staf saya untuk mengecek kebenarannya, apabila benar kondisinya seperti laporan kawan kawan wartawan ini maka saya akan sampaikan ke Pak Bupati sehingga pengawasannya diperketat dari dinas terkait dan hasilnya sesuai harapan masyarakat Pulau Besar,” ungkap Sunandar.

Lebih jauh dikatakannya, kalau dirinya selaku kepala pemerintahan di lingkup kecamatan berharap semua infrastruktur yang dibangun di wilayahnya hendaknya dilaksanakan sesuai prosedur dan aturan yang telah ditentukan demi tercapainya harapan masyarakat.

“Ya, saya selaku kepala pemerintahan di lingkup kecamatan Pulau Besar ini sangat berharap semua proyek pembangunan infrastruktur dilaksanakan sebaik baiknya sesuai prosedur dan ketentuannya guna tercapainya harapan masyarakat,” punglasnya.

Sementara itu, kepala dinas PUPR kabupaten Bangka Selatan, Ansori berdalih kalau amblesnya timbunan tanah pada sayap jembatan tersebut bukan karena dikerjakan asal asalan.

“Pekerjaan proyek tersebut sudah sesuai prosedurnya (bestek) pekerjaan. Saat ini kan masih dalam pelaksanaan jadi akan diperbaiki secepatnya,” kata Ansori via telepon, Senin (8/1/2018).

Disinggung soal keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Ansori katakan pihak kontraktor diberi  perpanjangan waktu pekerjaan.

“Kita berikan perpanjangan waktu pekerjaan hingga selesai sesuai perpres 70 tahun 2012. Denda 1/100 kali total pagu dana perhari juga kita terapkan. Kalau menurut konptraknya harusnya selesai 30 Desember 2017,” pungkasnya.

Terpisah, kasi Intel kejari Bangka Selatan, Fuadi seizin Kajari Basel, Pramono menerangkan kalau pembangunan jembatan ulim itu mendapat pengawalan dari TP4D kejari Basel.

“Proyek tersebut dikawal TP4D kejari Basel,” ungkap Fuadi saat menghubungi wartawan media ini, Selasa (9/1/2018) via telpon.

Lebih jauh dikatakan Fuadi, pembangunan oprit jembatan ulim itu tidak dibayar.

“Pekerjaan oprit jembatan ulim sebesar Rp.60 juta itu tidak dibayar. Itu inisiatif dari kontraktor sendiri untuk membangun opritnya. Nah kalaupun dindingnya ambrol kan masih dalam perawatan nanti akan diperbaiki oleh kontraktornya. Kita tidak membela pihak manapun tetapi memang seperti itu. Terkecuali bila selesai masa perawatan 6 bulan ke depan ada temuan baru kita akan melakukan penyelidikan itupun kalau pihak kontraktor tidak mau memperbaikinya,” kata Fuadi panjang lebar.

Disinggung soal penyelesaian pekerjaannya yang molor. Fuadi justru mengklaim kalau pelaksanaan proyek tersebut sesuai targetnya.

“Sesuai targetnya. Selesai tepat waktunya. Kalaupun ada pekerjaan yang berlangsung saat ini, itu kan hanya merapikan biar keadaan jembatan terlihat makin bagus,” elaknya. (Romli Muktar)

Leave A Reply

Your email address will not be published.