BNN: 90 Persen Masyarakat Aceh tidak Bisa Dipisah Dengan Ganja

Aryos Nivada: Itu Tendensius dan Memojokkan Aceh!

1

forum keadilan.com. Aceh – menyikapi statemen Kasubdit I Masyarakat Pedesaan Badan Narkotika Nasional (BNN) Hendrajid Putut Wigdado yang mengatakan 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa dipisahkan dengan ganja karena merupakan akar budaya Aceh, dibantah oleh pakar politik dan keamanan Aceh, Aryos Nivada.

Aryos mengatakan bahwa statemen tersebut cenderung tendensius dan memojokan rakyat Aceh. padahal hingga saat ini belum ada data akurat yang mengatakan hal demikian. Hal ini diungkapkan pria berkacamata ini pada forum Senin, (16/10) malam.

Aryos Nivada, MA pengamat politik dan keamanan (FOTO/HAMDANI)

“Statemen BNN tersebut sangat tendensius dan terkesan memojokkan rakyat Aceh. kita tidak tahu sejauhmana akurasi data yang didapatkan oleh BNN bahwa 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa pisah dari ganja. Apabila benar demikian maka ada sekitar 4 juta lebih rakyat Aceh penikmat ganja. termasuk kalangan lansia dan anak anak. Jumlah yang fantastis. Kita mempertanyakan darimana data 90 persen itu diperoleh BNN? Apakah berdasar riset atau pengamatan di lapangan? Seharusnya BNN dalam hal ini menunjukan data dan fakta yang kuat, atau metodologi yang valid,“ kata alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada ini.

Lebih lanjut Aryos mengatakan bahwa, pernyataan tersebut selain dapat mendiskreditkan Suku Aceh juga membawa penyesatan informasi kepada pihak luar. Seolah peredaran dan budidaya ganja di Aceh sudah luar biasa masif.

“Statemen tersebut saya kira sangat berbahaya apabila tidak didukung data konkrit dan akurat. Sebab pernyataan bahwa 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa lepas dari ganja mengindikasikan Suku Aceh buta hukum dan tidak tahu menahu terhadap bahaya narkoba seperti ganja. Ini tentu membawa penilaian tidak baik bagi Suku Aceh. sehingga suku lain di luar Aceh akan menilai orang Aceh identik dengan ganja. Ini tentu merupakan penyesatan informasi. Seolah peredaran dan budidaya ganja di Aceh sudah luar biasa masif. Padahal gencarnya pemberantasan tanaman ganja yang dilakukan BNN sendiri membuat ladang tanaman tersebut berkurang di Aceh. Operasi pemberantasan yang dilakukan dari tahun 2011 dengan menyita ladang ganja seluas 309 hektare, kemudian di tahun 2012 menurun menjadi 89,5 hektare dan tahun 2013 menurun menjadi 66 hektare. Jumlah total area tanaman ganja di Provinsi Aceh kini mengalami penurunan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat petani di pedesaan untuk tidak menanam ganja lagi telah meningkat. Tentu saja ini aneh. Sebab disatu sisi BNN mengatakan ladang ganja berkurang di Aceh akibat gencarnya operasi. Namun disisi lain menyatakan bahwa 90 persen masyarakat Aceh tidak bisa lepas dari ganja. Logikanya dimana,” ujar Aryos.

Terakhir, Aryos meminta pihak BNN untuk tidak mengambil keuntungan dari Aceh atas nama institusi. sebaliknya justru BNN dalam hal ini selayaknya berperan dalam mewujudkan perdamaian di Aceh dengan mencitrakan nilai nilai positif Aceh dimata pihak luar.

“Kita paham bahwa BNN merupakan institusi legal di negeri ini yang di amanahi UU untuk memberantas peredaran narkoba. Namun jangan lantas kemudian Aceh dijadikan lahan pengeruk keuntungan oleh BNN sendiri. Dengan mencitrakan mayoritas masyarakat Aceh sebagai penikmat ganja karena budaya. Maka publik membaca seolah sinyal BNN kepada pemerintah pusat agar dana operasi semakin deras mengucur di Aceh. padahal disatu sisi lahan ganja setiap tahun semakin berkurang di Aceh. Ini merupakan mispersepsi dan kesalahan fatal. Selayaknya di era perdamaian Aceh kini. BNN jangan semakin memperuncing konflik antara Aceh dan pusat. BNN harusnya mendukung upaya iklim perdamaian Aceh yang kini terajut dengan langkah turut memberikan citra positif terhadap Aceh. bukan malah mengkampanyekan Aceh sebagai ladang ganja di setiap sudut rumah warga, karena berpotensi memberikan efek tidak baik bagi Aceh sendiri. terutama di sektor pariwisata,“ pungkas Aryos.(Hamdani)

You might also like More from author

  • Feryza ST

    Harus sekolah dulu BNN….90% x total warga aceh…..mustahil…mereka buta akan matematika..mereka hanya tau kesenian yg dlm segala hal harus terlihat indah…meskipun cm rekayasa…..