Tegas dan Berani

THE EAGLE AND THE CROW

0

Rachmat Fajri
Kriminologi UI

“Lo there do I see my father; Lo there do I see my mother and my sisters and my brothers; Lo there do I see the line of my people, back to the beginning. Lo, they do call me, they bid me take my place among them, in the halls of Valhalla, where the brave may live forever”

~ Michael Crichton (1999) ~

Deringan telepon genggam di Minggu pagi sepertinya lebih dari cukup untuk membangunkan Tora, detektif remaja terbaik di Jakarta. Jika kalian bertanya-tanya apakah titel tersebut disematkan kepadanya oleh semacam asosiasi detektif, baik internasional maupun sekedar domestik, maka jawabannya jelas tidak, karena ia sendiri lah yang menyematkan titel tersebut. Menyedihkan dan ironis memang, mengingat seringkali kasus yang ditangani oleh “detektif remaja terbaik di Jakarta” ini hanya kasus-kasus kecil seperti barang hilang dan pencurian kecil-kecilan. Sebenarnya jelas ia tidak mau menerima kasus-kasus sepele tersebut, namun tagihan kos-kosan yang sudah sangat menumpuk memaksanya untuk terus menerima kasus yang datang, seberapa kecil pun kasus tersebut. Namun satu hal yang tidak ia sangka, panggilan telepon yang mengganggu tidur nyenyaknya di pagi hari ini sangat berbeda dengan panggilan-panggilan telepon lainnya, karena kali ini, titel yang ia sematkan tersebut akan sangat diuji.

Panggilan pagi ini datang dari seorang tour guide biro perjalanan kenamaan yang memiliki cabang di seantero Indonesia. Dengan ekspektasi serendah mungkin, pertanyaan yang ditanyakan Tora pertama kali adalah kasus apa yang akan ditanganinya dan berapa fee yang akan didapatkannya seusai menyelesaikan kasus tersebut. Ketika sang tour guide mengatakan bahwa sebaiknya detail kasus tersebut dibicarakan secara langsung, Tora langsung beranggapan bahwa kasus ini tak berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya, mengingat banyaknya pemohon yang mengatakan hal tersebut di awal agar ia tidak keberatan menangani kasus-kasus kecil nan sepele yang seharusnya tidak memerlukan detekftif semacamnya. Namun, ketika sang tour guide tersebut mengatakan bahwa kasus tersebut terjadi di Pulau Harapan, Kepulauan Seribu, seluruh biaya perjalanan akan dibiayai, dan fee yang dapat diterimanya ditentukan oleh seberapa cepat ia dapat menyelesaikan kasus tersebut, tanpa pikir panjang Tora menyatakan kesediaannya untuk menangani kasus tersebut. Setidaknya jika fee yang ia dapatkan pada akhirnya tergolong kecil, ia masih bisa menikmati liburan cuma-cuma ke Kepulauan Seribu.

Dengan waktu persiapan yang jelas memecahkan rekornya sendiri, ia segera berangkat menuju ke dermaga Muara Angke dan sesampainya disana ia langsung menaiki kapal yang memang sudah disewa oleh biro perjalanan tersebut khusus untuk mengangkut Tora. Namun ketika kapal tersebut hendak berangkat, seorang pria tua naik dan langsung duduk di sudut paling belakang kapal. Jika dilihat, pria tersebut dapat dikatakan cukup aneh, karena ditengah panasnya Jakarta, terlebih lagi di pinggir laut, ia menggantungkan jaket yang cukup tebal dan panjang di pundaknya, yang bahkan saking panjangnya jaket tersebut hampir menyerupai jubah. Selain itu, ia juga mengenakan topi yang hampir menutupi kedua matanya serta terus memegang tongkat usang di tangannya, yang bahkan setelah ia duduk pun tongkat tersebut tidak lepas dari genggamannya. Mungkin itu semua yang kita akan perhatikan dari pria tersebut, namun hanya dua hal yang menjadi pertanyaan Tora ketika melihatnya. Apakah ia juga merupakan detektif? Dan jika iya, apakah fee-nya nanti akan dibagi dua dengan pria tersebut? Dua pertanyaan itulah yang terus menghantui Tora sepanjang perjalanannya ke Pulau Harapan. Maklum, tunggakan kos-kosan dan keperluannya sehari-hari tidak akan terbayar apabila bayaran kecil yang biasa didapatnya harus dibagi dua.

Larut dalam kedua pertanyaan tersebut dan hitung-hitungannya akan fee yang harus dibagi dua, tanpa disadarinya ia telah sampai di Pulau Harapan. Hari itu Pulau Harapan tidak seramai biasanya, bahkan terkesan sangat sunyi. Kita semua tahu, kesunyian bukanlah pertanda baik. Begitu pula dengan Tora. Ia mulai menyadari bahwa kasus ini bukan sekedar kasus kehilangan seperti biasanya, yang oleh karenanya ia bertekad untuk segera mencari tahu segala informasi yang dapat diperolehnya dari tour guide yang meneleponnya. Sesampainya disana, ia langsung disambut oleh orang yang mengontaknya tadi pagi, seorang perempuan berusia 20-an yang entah karena apa terlihat pucat dan jelas sangat panik. Namun belum sempat Tora menanyakan tentang kasus apa yang harus ia tangani, berapa fee yang akan diterimanya, serta siapakah pria tua yang naik di kapal bersamanya, tour guide yang meneleponnya tadi langsung menjabat tangan Tora sebagai tanda terima kasih atas kedatangan dan kesediaannya untuk menangani kasus tersebut sembari mengisyaratkan Tora untuk segera mengikutinya, yang tanpa diketahui oleh Tora, tour guide tersebut akan membawa Tora menuju tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan yang tidak pernah dilihat oleh Tora sebelumnya, baik secara langsung atau di televisi sekalipun.

Betapa terkejut dan mualnya Tora ketika ia sampai di lokasi. Bagaimana tidak, disana ia langsung disambut oleh sosok tak bernyawa yang tergantung tinggi diantara dua batang pohon besar. Kedua tangannya dibentangkan dan diikatkan ke batang pohon di kanan dan kirinya dengan menggunakan seutas tali tambang pada masing-masing pergelangan tangannya. Yang mengerikan adalah punggung mayat tersebut yang terbuka lebar, dengan tulang rusuk yang sepenuhnya terlepas dari tulang belakang mayat tersebut dan dipaksa menghadap ke luar serta paru-paru yang disobek, dibentangkan, dan dikaitkan ke masing-masing tangannya sehingga menyerupai sayap burung yang terbentang. Pada titik ini, mengetahui betapa seriusnya kasus yang akan ditangani, Tora menuntut tour guide tadi untuk segera menjelaskan segala informasi yang ia ketahui kepadanya, karena jika tidak, ia tidak akan memulai penyelidikan dan menolak melanjutkan kasus tersebut, karena melihat kondisinya yang seperti ini, liburan cuma-cuma yang ia harapkan jelas tidak akan terpenuhi. Setelah Tora menyetujui permintaan tour guide tersebut untuk merahasiakan perihal kasus ini ke pihak luar, tentunya karena janji fee yang sangat besar jika ia dapat menyelesaikan kasus itu dalam waktu singkat, barulah sang tour guide mulai menceritakan apa yang terjadi sebelum Tora sampai disana.

Semuanya bermula ketika biro perjalanan tersebut membuka promo liburan dua hari ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu dengan harga yang sangat terjangkau untuk empat orang, yang mana hal ini disebabkan oleh sedang kosongnya pulau tersebut. Hanya butuh dua hari saja hingga keempat slot yang disediakan oleh biro perjalanan tersebut terisi penuh. Pendaftar pertama bernama Aldo, seorang anak pengusaha kaya raya yang sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya, yang naasnya semua privilege yang ia terima dan miliki hingga sekarang tidak akan lagi ia terima karena dia lah yang tergantung di pohon dengan punggung terbuka. Pendaftar kedua bernama Syifa, seorang zoologist yang ingin mengunjungi penangkaran elang bondol di pulau tersebut. Pendaftar ketiga bernama Oki, seorang pendeta yang sedang melakukan survey untuk kegiatan retreat gerejanya. Dan pendaftar terakhir bernama Udin, seorang arkeolog yang baru saja pulang dari ekspedisinya.

Setelah segala keperluan administratif diselesaikan dan hari perjalanan yang direncanakan tiba, keempat orang tersebut berangkat bersama sang tour guide tadi dari Muara Agke. Sesampainya disana, seusai pembagian kamar, agenda perjalanan barulah dimulai. Namun ditengah-tengah perjalanan, Aldo yang memang tidak terbiasa bepergian ke destinasi alam seperti Kepulauan Seribu mulai menunjukkan perilaku anak manjanya, yang mana hal ini kemudian menyulut amarah dari Syifa. Amarah Syifa tentu tidak diterima baik oleh Aldo. Tanpa pandang bulu, Aldo langsung melayangkan tangannya ke pipi Syifa. Karena kondisi yang sudah sangat panas, Oki, Udin, dan sang tour guide segera melerai keduanya sebelum terjadi perkelahian lebih lanjut. Setelah kejadian itu, Aldo yang merasa kesal memutuskan untuk berpisah dari rombongan dan melakukan perjalanan sesuai dengan keinginannya sendiri. Karena sikapnya yang memang menyebalkan, tidak ada satupun yang menentang keputusan Aldo, bahkan sang tour guide pun tidak mencegahnya pergi, karena perilakunya yang memang dapat mengganggu rundown atau itinerary yang telah disusun sebelumnya. Walau begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa sang tour guide merasa cukup khawatir karena Aldo tidak menunjukkan batang hidungnya sepanjang malam.

Setelah Aldo pergi, menurut cerita dari tour guide tadi, tidak ada hal penting yang terjadi. Satu-satunya hal yang menurutnya mungkin perlu diketahui oleh Tora adalah Udin yang meminta izin untuk meninggalkan pulau dan kembali ke Jakarta sebentar karena ada urusan mendadak pada malam hari. Setelah itu, sang tour guide menyatakan bahwa meskipun malam hari adalah waktu bebas, sepanjang pengetahuannya, seluruh anggota tur, kecuali Aldo yang memang memutuskan untuk memisahkan diri dan Udin yang izin untuk kembali ke Jakarta sebentar, memutuskan untuk menghabiskan waktu di kamar dan tidur. Paginya, teriakan Syifa lah yang kemudian membangunkan dirinya dan Oki. Saat itulah kemudian sang tour guide melihat jasad Aldo yang telah tergantung dan sesegera mungkin menelepon Tora untuk datang. Satu hal yang mengagetkan Tora adalah fakta bahwa ternyata pria tua yang menaiki kapal bersamanya tadi adalah Udin yang kemarin izin kembali ke Jakarta karena ada urusan mendadak.

Sebelum melakukan analisisnya, Tora terlebih dahulu meminta kepada setiap orang untuk membantunya menurunkan jasad Aldo dan melakukan olah TKP untuk menemukan bukti-bukti yang mungkin tersebar di sekitar lokasi. Dari scanning singkat yang dilakukannya, ia menemukan adanya secarik kertas yang mungkin memang sengaja diletakkan oleh pelaku untuk menandakan keberhasilannya dalam membunuh Aldo. Dalam secarik kertas tersebut tertulis “Lo there do I see my father; Lo there do I see my mother and my sisters and my brothers; Lo there do I see the line of my people, back to the beginning. Lo, they do call me, they bid me take my place among them, in the halls of Valhalla, where the brave may live forever”, tertanda “The Crow’s Child”, yang mana setiap hurufnya ditulis menggunakan darah. Dua hal yang terlintas dalam kepala Tora, “ritual” dan “simbolisme”.

Ketika ia sedang menimbang-nimbang siapa yang mungkin melakukannya, orang yang paling dicurigainya yaitu Udin angkat bicara. Ia mengatakan bahwa apa yang sedang mereka lihat sekarang disebut sebagai The Blood Eagle, suatu ritual pengorbanan manusia oleh kaum pagan sebagai suatu persembahan kepada dewa perang mereka, Wodan. Sepanjang sejarah, tercatat bahwa mereka yang dikorbankan dalam ritual ini hanya mereka yang memiliki status sosial tinggi, seperti raja dan pangeran. Dan ritual ini selalu dilaksanakan sebagai bentuk pembalasan dendam seorang anak atas kekejaman yang diberikan kepada bapaknya. Walaupun Udin lah yang mengemukakan fakta tersebut, hal tersebut tentu tidak mencoretnya dari daftar tersangka potensial, karena gerak-geriknya yang sangat mencurigakan, terutama keputusannya untuk meninggalkan pulau ketika Aldo memutuskan untuk berpisah dari rombongan.

Namun kecurigaannya harus didasari oleh bukti, yang oleh karenanya Tora memutuskan untuk menginterogasi Syifa, Oki, dan Udin di ruangan terpisah, karena jelas kemungkinan pelaku lebih dari satu tetap ada, mengingat “ritual” ini sangat sulit untuk dilakukan. Didasari oleh pengetahuan bahwa ritual ini dilakukan untuk membalaskan dendam, hal pertama yang ditanyakan oleh Tora adalah bagaimana kondisi bapak dari masing-masing tersangka. Bapak dari Udin sendiri jelas telah meninggal dunia mengingat usianya yang juga sudah sangat tua, Oki memang sudah yatim sejak ia di dalam kandungan ibunya karena penyakit yang dulu diderita bapaknya dan kemudian ia dirawat oleh gereja, sedangkan bapak dari Syifa masih hidup dengan kondisi yang sangat baik. Dari pengakuan ketiga orang ini, Tora langsung menemukan jawabannya. Pikiran yang sama dengan pikiran yang terbersit saat ia melihat secarik kertas berisi frasa bersimbah darah tadi kembali muncul. “Simbolisme”. Apa yang terlihat tidak selamanya memang benar seperti yang terlihat. Pelaku tidak memperkirakan kehadiran ahli, yang kemudian hal ini lah yang mengakibatkan kesombongannya memuncak. Ternyata selama ini pelaku telah bermain peran, peran yang dimainkannya dengan sangat baik. Namun sayang, tidak ada yang luput dari kebijaksanaan Wodan. Ternyata mereka yang paling suci pun tidak luput dari dosa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.