Razi — Cerita Pendek Cyane Autaria (Kriminologi UI}

0

Cyane Autaria
Kriminologi Universitas Indonesia

Cinta itu cantik, katanya. Seperti helaian kabut yang menari menutupi barisan pepohonan di hutan. Seperti buliran hujan yang jatuh di permukaan danau, melukiskan pola yang sama dan teratur. Dan, seperti kerutan di ujung mata nya ketika aku melontarkan kalimat – kalimat yang dipikirnya lucu.Menurutku, cinta adalah segala hal yang dapat kurasakan dengan hatiku, namun terlihat jelas di mataku. Samar – samar, namun sangat cantik. Aku menikmati cinta dalam pemandangan. Aku menikmati cinta dalam warna mata nya.

“Nama nya Sienna. Dia sepupu jauhmu.”

Lamunan ku seketika buyar setelah mendengar suara sahabatku, Razi, yang langsung duduk di sampingku. Alih – alih menjawab nya, tatapan kosong ku berubah kearahnya, seakan isi kepalaku yang kosong tidak dapat memproses jawaban yang tepat. Razi membalas nya dengan tawa ringan dan tepukan lembut di bahuku, “perempuan itu, yang mengenakan gaun merah, kan? Aku tau kau sedang menatap nya. Cantik ya?”, ujar nya menggodaku dengan senyuman usil nya.

“Sok tahu kau.”, jawabku ketus, seraya menolehkan pandangan ku ke arah lain.

Suasana di ruangan itu ramai, banyak orang berbaju hitam berlalu lalang, berdiri, berbicara dengan nada yang sama.Aku teringat terakhir kali aku berada di tengah – tengah suasana seperti ini adalah di acara ulang tahun nenek ku. Aku duduk menyendiri di sofa hijau yang terletak di sudut ruangan, tempat paling strategis untuk menatap seisi ruangan tanpa cela, juga tempat dimana tidak ada orang – orang yang akan mengangguku karena mereka akan sibuk berdiri dan berbicara dengan orang lain. Ruangan ini terasa hangat, ramai, penuh dengan senyuman dan lantunan lagu lawas. Ruangan yang sama seperti yang sedang aku duduki saat ini. Ruang tamu luas dengan nuansa vintage a la tahun 70an, dengan lampu chandelier bergantung di tengah ruangan, lukisan – lukisan dari cat minyak, dan foto – foto kenangan dari masa nenek ku masih muda. Ruangan yang sekarang berisi dengan jumlah orang yang sama, dengan nuansa yang jauh berbeda. Sekarang hanya ada tangisan duka, orang – orang berbicara dengan nada sedih, dan beberapa ada yang hanya diam membisu di depan bingkai foto nenek yang di pajang di dinding. Semua nya hitam. Kecuali dia. Tentu saja, perempuan berbaju merah.

“Serius. Aku dengar paman mu mengenalkan nya pada Ibu mu.”, ujarnya sambil bergesar mendekat ke tempat duduk ku, “Gak usah mengelak, Bow. Dia memang cantik. Yah..walaupun tidak secantik Aulia – “,

“Sudah lah, Raz. Bisa diam, tidak? Aku tidak perlu mendengar ocehan mu sekarang, apalagi godaan usil mu mengenai adik ku. Jangan berani – berani dekati Aulia.”, keluh ku, memotong kalimatnya seraya mendorong badan nya menjauh dari tempat duduk ku.

Ia menghela napas dan menyisir rambutnya dengan tangan nya sebelum beranjak dari tempat duduk, “Terserah kau, lah. Yang penting aku sudah berusaha membuatmu terhibur. Aku pergi dulu ya, sepertinya kakak mu ingin bicara, tuh.”, Sekali lagi, Razi memberiku tepukan lembut di bahuku sebelum berjalan ke arah kerumunan orang. Aku tidak terlalu peduli dengan keberadaannya sekarang, sebutuh apapun aku dukungan moral atas kepergian nenek ku, Razi bukan lah orang pertama yang paling bisa memberiku dukungan moral. Tidak peduli peran nya sebagai sahabatku sedari SD.

Pandangan ku beralih ke arah lain, ke arah dimana kakak sulung ku, Radit, berjalan pelan ke arahku dari tengah ruangan. Kedua tangannya di sumpalkan ke dalam saku jas hitam nya. Wajah nya yang biasanya cerah tampak suram dan lesu, seakan seluruh cahaya yang terpancar memutuskan untuk pergi dari wajah nya hari itu. Dia segera mengisi tempat kosong disampingku di sofa, tempat dimana Razi duduk lebih awal tadi. Tatapannya menajam ke arah ku, memunculkan kerut di dahi nya. Aku membalas tatapannya dengan polos, sebelum memberinya sekilas senyuman pahit.

“Kamu baik – baik saja? Apa ada yang menganggumu?”, tanya nya dengan suaranya yang berat dan dalam, seakan menggambarkan pribadi nya yang gagah dan tegas di usia nya yang mencapai 28 tahun. “Aku tahu kau sangat sedih dengan kepergian Nenek. Bow, kalau ada apa – apa, katakan saja padaku. Kamu nggak sendirian.”, lanjut nya dengan nada yang mulai khawatir.

“Maksud mu apa, Bang? Aku baik – baik saja. Lagipula ada Razi, kok.”, jawabku singkat, tanpa membalas menatapnya. Mataku sibuk mencari – cari perempuan berbaju merah itu di tengah ruangan. Menyesali interupsi dari kedua orang yang sebelumnya mengajakku berbicara.

“Razi, ya…..”, ujar nya tanpa menarik tatapan nya dari ku, air wajah nya seakan berubah menjadi khawatir seketika. “Apa…Razi kesini?”, lanjut nya.

“Loh, iya kok. Barusan dia berbicara padaku, kau tidak melihatnya?”, jawabku, acuh tak acuh. Pandanganku tetap menyapu ruangan. Terlalu banyak orang disini, semua nya berwarna hitam dan sebagian besar dari mereka berdiri mengerumun, membuatku sulit untuk menemukan perempuan itu.

Dia seketika terdiam, tidak menjawab pertanyaanku, melainkan menghela napas panjang sambil menyenderkan punggungnya ke sofa. Aku mengangkat satu alis sambil menatapnya, memberikan tatapan aneh sebelum kembali menyisir ruangan. “Bang, apa kau kenal Sienna?”, tanyaku, iseng, mencoba melanjutkan pembicaraan dengan nya.

Kakak ku memberiku tatapan aneh sebelum menjawab dengan ragu, “um..ya, kenal. Tadi paman mengenalkannya pada Ibu. Dia anak spesialis pemakaman. Tapi masih sepupu jauh dengan kita.”, jawabnya pelan.

“Kenapa aku baru lihat dia sekarang, ya?”, kata ku dengan nada polos, di iringi dengan tawa pelan kakak ku.

“Karena keluarga kita baru kontrak dengan perusahaannya setelah kematian Nenek. Sebelum nya, spesialis pemakaman keluarga kita diurus sepenuh nya oleh Gereja. Tetapi, ayah mulai tidak suka dengan pelayanan nya setelah melihat pemakaman Bibi Sarah tahun lalu. Menurut nya berantakan. Aku juga tidak mengerti kenapa. Kemudian, ayah mencari spesialis pemakaman lain, sebelum akhirnya Paman Rudi mengenalkannya pada Paman Olaf – ayah Sienna. Dia sepupu adik tiri nya Kakek.”, ujar nya menjelaskan panjang lebar. Aku mulai menyadari perubahan nada bicara nya yang berubah menjadi santai dan ringan. “Jadi, jika ada yang meninggal lagi di keluarga kita, akan diurus oleh Paman Olaf. Yah..semoga tidak dalam waktu dekat ini. Sudah cukup lah kepergian Nenek memberi luka kecil di hati keluarga kita.”, lanjutnya dengan senyuman pahit yang terlukis samar di wajahnya.

Aku terdiam sambil mendengarkan, pandangan ku tetap mencari – cari gadis itu ke seluruh ruangan tanpa membuahkan hasil. Terbersit di pikiranku bahwa gadis itu telah beranjak pergi dari rumah ini. Rasa takut dan khawatir pun muncul seperti badai di hatiku. Posisi duduk ku yang tadi menyandar di sofa sekarang menjadi tegap, kedua tangan mengenggam kedua tempurung lutut ku.

“Bowo? Kamu kenapa?”, tanya Radit, seraya melingkarkan lengannya ke bahu ku. Aku berdiri dengan cepat dan meninggalkan kakak ku di ruangan itu. Yang ada di pikiranku saat itu adalah Sienna. Aku berjalan ke ruangan lain di dalam rumah, yang sebagian besar kudapati kosong karena semua orang berkumpul menyesaki ruang tamu. Aku melanjutkan langkahku ke luar, sebelum kudapati sekelibat warna merah yang seakan menamparku dari kenyataan. Gadis bergaun merah beranjak memasuki mobil Van besar berwarna hitam, yang kemudian melaju dengan cepat keluar dari halaman rumah Nenek ku. Sekelibat tamparan warna merah itu membangunkan ku dari lamunan ku, membuatku terhujani rasa penyesalan yang bertubi – tubi.

“Ayah nya spesialis pemakaman kelurgamu, ya?”, suara Razi membuatku sontak kaget dari lamunan penuh penyesalanku. Aku mengernyitkan dahi ke arahnya, yang kemudian dibalasnya dengan senyumannya yang melengkung tajam yang serasi dengan mata nya, senyuman licik yang selalu dibuatnya ketika mengusulkan ide – ide nakal.“Berarti dia hanya akan datang jika ada keluarga mu yang meninggal, bukan kah begitu, Bowo?”, lanjutnya sambil mendekatkan wajah nya ke wajah ku.

“Kamu punya ide apa?”, jawab ku, menaikkan satu alis selagi menatapnya.

Dia tertawa pelan sebelum melempar tangan kiri nya ke bahuku untuk merangkul ku, sambil memandang jauh ke depan. “Ide gila.”, jawab nya singkat. “Yang mungkin bisa menjadi solusi mu untuk kembali bertemu dengan nya.”, lanjut nya dengan nada yang samar – samar terdengar semakin licik. “walaupun aku tidak yakin kau ingin melakukannya..hmm.. Bowo, sahabatku, beritahu aku seberapa besar kau ingin bertemu dengan Sienna.”, ia lanjutkan dengan pertanyaan. Kedua tangannya kini mengenggam kedua belah bahu ku, sambil memutar tubuhku untuk berhadapan dengannya.

Aku terdiam sejenak, tatapan ku kembali menerawang ke arah tempat dimana ia beranjak dari halaman rumah Nenek ku. Sienna mungkin adalah gadis pertama yang pernah kutemui, yang menurut ku sangat cantik. Kecantikannya tidak biasa, ia memiliki kecantikan sendiri, sesuatu yang unik terbalut di dalam keanggunan pancaran wajah nya. Rambut nya yang menutupi sebagian punggung nya, mengingatkanku akan balutan selimut hangat rajutan buatan Nenek. Senyum nya memancarkan kemurnian, sangat polos dan lembut. Aku membayangkan suara nya yang lembut, terdengan begitu manis dan dingin, seperti taburan gula diatas kue.

Pandanganku kembali menatap wajah Razi, seraya melontarkan senyum tulus yang mungkin baru pertama kali aku lakukan setelah kepergian Nenek, “Sepertinya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama, Raz.”, ujarku mantap. “Aku ingin bertemu dengan nya lagi.”

Senyum Razi melebar setelah mendengar jawabanku. Walau, samar – samar, aku dapat melihat kelicikan terpancar di mata nya.

******

Detektif Odelia Sibarani memutar roda kemudi mobil nya memasuki halaman rumah besar yang terletak di pinggiran Jakarta Pusat. Rumah milik keluarga besar Sastrodimedjo itu tengah ramai dikerumuni tim forensik kepolisian bersama dengan personil – personil polisi. Beberapa wartawan sudah berkerumun di pinggir halaman depan, tatapan mereka yang terpaku pada pintu depan rumah seakan menunggu sesuatu yang besar untuk keluar dari pintu itu. Delia memutuskan untuk memarkir mobil nya disamping salah satu ambulans, berniat untuk menyembunyikan diri dari para wartawan yang siap mengerubungi nya bagai lalat.

Ia berjalan memutar melewati belakang ambulans dan segera melesat masuk ke dalam rumah sebelum para wartawan berhasil menghampiri nya. Setiba nya di dalam rumah, ia segera disambut oleh Wisnu, tim forensik ahli post mortem yang pertama dilihatnya.

“Detektif Delia! Sudah tiba rupa nya..”, sapa nya sebelum berlari kecil menghampiri nya dari ujung ruangan. Ia memeluk sebuah arsip laporan yang sepertinya sudah ditata rapi sebelum sang Detektif tiba di lokasi. “Ini laporan dari tim forensik yang sudah terkumpul, tersangka sudah dibawa ke kantor polisi oleh tim dari bareskrim. Sebelum dibawa ke kantor polisi, tersangka sempat di interogasi singkat oleh kepala tim bareskrim, katanya protokol dari Detektif Delia”.

“Ya, saya memang memberi perintah kepada Pak Agus sebelum aku tiba. Apa semua nya sudah dicatat disini?”, ujar Delia, selagi membolak balik kan lembaran arsip di tangannya.

“Sudah, Bu Detektif. Detektif dapat membaca dulu sebelum nya, kami akan melanjutkan mencari barang bukti di rumah ini.”, jawab Wisnu dengan patuh.

“Baik, terimakasih, Wisnu.”,Pandangan Delia seraya menyapu ruangan, sebelum menemukan sofa hijau di sudut ruang tamu yang luas itu. Ia kemudian memutuskan untuk membaca arsip forensik yang diberikan Wisnu di sofa itu.

Tersangka bernama Wibowo Chandra Sastrodimedjo, 22 tahun. Seorang mahasiswa Universitas Negeri di Jakarta Selatan. Laki – laki yang merupakan anak kedua dari Prakoso Sastrodimedjo (56 tahun) dan Sekar Larasati (54 tahun) sudah 4 tahun di vonis memiliki gangguan kejiwaan Schizophrenia dan Psikosis stadium 3, setelah kematian adik sulung nya, Hafiz Sebastian Sastrodimedjo (6 tahun)tahun 2010 lalu. Tersangka terbukti, dan mengaku, telah membunuh Ayah, Ibu, dan Kakak Sulung nya, Raditya Iskandar Sastrodimedjo (28 tahun), dengan meracuni makanan mereka secara berkala.

Dimulai saat kematian ayah nya pada tanggal 31 Mei 2017 lalu, yang dikira sebagai kematian yang wajar oleh anggota keluarga. Diikuti dengan kematian ibu nya 3 minggu setelah kematian ayah nya, yang juga dianggap sebagai kematian yang wajar akibat penyakit diabetes yang telah lama di derita sang Ibu.Pembunuhan dilanjutkan dua bulan kemudian ketika tersangka membunuh kakak sulung nya. Pembunuhan diawali dengan penganiayaan sebelum akhirnya korban dipaksa meminum racun hingga mati. Pembunuhan tersangka terhadap kakak nya terbukti merupakan pembunuhan yang paling keji yang telah dilakukannya.

Tersangka mengaku dipaksa untuk melakukan pembunuhan oleh seseorang bernama Razi Pandji, pemuda yang dianggapnya sebagai sahabat nya, tetapi tim forensik mendapat keterangan dari adik perempuan tersangka, Aulia Larasati (18 tahun), melalui telepon, bahwa Razi Pandji hanyalah hasil dari delusi gangguan kejiwaan tersangka.

Terdapat saksi dan juga pelapor kejadian perkara bernama Sienna Aurora (22 tahun), yang mengaku sempat dihubungi oleh tersangka via telepon ketika tersangka melakukan penganiayaan terhadap kakak sulung nya. Sienna juga mengaku merupakan spesialis pemakaman dari keluarga Sastrodimedjo, dan mendapati sikap aneh tersangka terhadap nya selama ia bekerja mengurusi pemakaman keluarga nya. Sienna mengaku tersangka pernah menyatakan perasaan cinta kepadanya yang kemudian ditolak nya karena saksi telah memiliki suami dan anak. Saksi juga mengaku diperintahkan oleh tersangka untuk hati hati dan jangan pernah percaya pada Razi, walalupun Saksi belum pernah bertemu dengan seseorang yang disebut.

Pembunuhan Raditya (28 tahun) terjadi lima hari setelah pernyataan cinta tersangka.

Keterangan lebih lanjut ditunggu dari kedua saksi: Aulia Larasati dan Sienna Aurora.

Detektif Delia menutup arsip yang telah dibaca nya. Ia segera beranjak dari sofa hijau dan berjalan keluar pintu tanpa mempedulikan tim forensik lain dan para wartawan yang sudah berdiri berkerumun di luar garis polisi di halaman rumah. Beberapa wartawan sudah bersautan melontarkan pertanyaan – pertanyaan yang sukar didengarnya. Ia menghela napas dan berjalan ke arah mobil nya, sebelum masuk dan menghempaskan diri nya di belakang kemudi. Malam yang berat, pikirnya. Ia segera menyalakan mesin mobil dan memutar roda kemudi untuk keluar dari lokasi rumah besar itu.

******

Setiba nya di Kapolsek Jakarta Pusat, Delia segera disambut oleh beberapa anggota polisi yang mengarahkannya ke ruang interogasi. Sang Detektif melangkah masuk ke dalam ruang interogasi dengan tatapan yang keras. Mata nya menolak untuk segera menatap laki – laki muda yang tengah duduk merunduk di balik meja di tengah – tengah ruangan. Pak Agus, kepala Bareskrim, seraya segera berdiri dari kursi di seberang pemuda tersebut ketika Sang Detektif melangkah masuk.

Delia menempati kursi kosong tempat Pak Agus duduk semula nya. Ia menatap tajam ke pemuda itu, yang dibalas dengan tatapan memelas oleh nya. Mata nya merah dan basah dengan pipi yang tampak masih jelas rona merah nya. Delia tidak langsung bicara, ia mempelajari penampilan fisik pemuda ini, gerak gerik tubuh nya, hingga cara berpakaiannya. Tampak seperti mahasiswa normal pada umumnya.

“Aku tidak bersalah. Ini semua ide Razi. Aku tidak bermaksud untuk melakukannya.”, kalimat pemuda itu memecahkan kesunyian yang dingin dalam ruangan itu. Delia menatapnya tajam, sambil menyenderkan punggungnya ke kursi dan melipat tangannya di dada nya.

“Bukankah, kau sudah mengaku telah membunuh kakak mu?”, tanya Delia, tenang, dengan nada bicara yang santai. “Atau itulah yang kubaca dari laporan”

“Ya, aku mengaku. Tapi Razi memaksa ku. Ia bilang akan membunuhku dan membunuh Sienna jika aku tidak melakukannya.”, jawabnya dengan nada yang panik, tatapan nya semakin memancarkan kegilaan dalam dirinya. “Kumohon, aku tidak sepenuh nya salah. Kau harus menangkap Razi….dan Adikku! Ya! Adik kecil ku, Aulia, dia juga bekerja sama dengan Raz-“,

“Adik mu yang sekarang tinggal di Surabaya?”, potong Sang Detektif, menatapnya dengan aneh. Bowo kemudian terdiam, sebelum mulut nya terbuka untuk menjawab dan menutup kembali seakan ragu. Ia menggumamkan sesuatu sebelum akhirnya Delia melanjutkan berbicara, “dalam laporan ini juga ditulis bahwa kau memiliki schizophrenia dan psikosis stadium 4. Sekarang kata kan padaku, Bowo, mengapa aku harus mempercayaimu.”

Bowo terdiam, pandangannya kini berubah menjadi pandangan takut dan memohon. Ia menatap lama Delia sebelum akhirnya ia berkata, “lindungi Sienna dan keluarganya. Kumohon.”

Keraguan yang samar seraya meliputi pikiran sang Detektif sebelum Pak Agus memecah keheningan dan menarik lengan Bowo, “Wibowo Chandra, anda akan kami pidana penjara atas pembunuhan Prakoso Sastrodimedjo, Sekar Larasati, dan Raditya Iskandar. Tuntutan pidana dan hak hak tersangka akan diputuskan di hadapan hakim di pengadilan.”, ujarnya seraya menarik lengan Bowo yang sudah digembok borgol dan menyeretnya keluar ruangan interogasi.

Delia duduk terpaku menatap Bowo dan Pak Agus yang berjalan keluar ruangan. Selama 2 tahun ia menjadi detektif, tidak pernah sekalipun ia meragukan perbuatan seorang penjahat dan keputusannya untuk menghukumnya.

******

Suasana di kedai kopi di daerah Jakarta Selatan pagi itu sangat sepi. Para pegawai dan barista sibuk mengerjakan hal lain di dapur. Satu – satu nya pelanggan hanya perempuan bertubuh mungil berambut pendek yang duduk di sudut ruangan sambil menyeruput caffe latte panas yang dipesannya. Gadis tersebut tampak sangat dingin, dengan kulit seputih gula dan baju merah yang membalut seluruh lengan nya yang kecil. Tatapannya yang tertuju ke luar jendela sesekali menoleh untuk menatap jam dinding sebelum terfokus lagi ke luar jendela, seakan sedang menanti seseorang untuk datang.

Selang beberapa waktu, seorang pemuda bertubuh tinggi dan jangkung masuk ke dalam kedai kopi. Ia melontarkan senyum ke arah perempuan tersebut sebelum berjalan ke bar untuk memesan. “Ice Americano satu. Tanpa gula, ya.”, ujar nya kepada barista yang baru saja keluar dari pintu dapur. Sang barista segera menangguk dan sibuk mengambil gelas untuk menyiapkan pesanan pemuda tersebut.

Sang pemuda langsung berjalan menuju perempuan tersebut dan duduk di seberangnya. Gadis tersebut menatap nya dengan dingin, menolak untuk membalas senyumannya. “Hai Aulia, lama gak berjumpa.”, ujar pemuda itu dengan nada menggoda.

Sang gadis memutar bola mata nya sebelum melontarkan jawaban, “Udah lah, Raz, gausah basa basi. Aku gak suka kalau kamu basa basi terlalu lama kayak gitu.”, ujar nya sebelum menyeruput kopi nya dengan santai.

Si pemuda tertawa lepas, “hah, baiklah kalau begitu. Ini waktu yang tepat untuk meminta bagianku kan?”, ujarnya dengan penuh percaya diri. “kuharap hasil nya seperti yang telah kita diskusikan sebelumnya.”

Gadis yang bernama Aulia itu mendelik ke arah si pemuda, sebelum meletakkan cangkir nya kembali ke meja, dan meraih sesuatu di dalam tas yang terletak di kursi samping nya. Aulia menarik secarik amplop besar berwarna coklat, bersamaan dengan satu amplop putih panjang yang terlihat tebal. “Ini putusan dan laporan hakim terhadap Bowo. Kau tahu kan dia di vonis penjara 20 tahun? Disini juga sudah ku kumpulkan semua informasi mengenai Sienna Aurora dan keluarga nya, juga Detektif Odelia Sibarani yang menangani kasus Bowo.”, ujar nya sambil meyerahkan amplop besar. “Kemudian, disini bagian yang kau ingin kan.”, lanjutnya pelan seraya menyerahkan amplop putih panjang dengan hati hati.

Pemuda itu mengambil kedua amplop dengan bangga, meletakkan amplop besar di pangkuannya, dan mengintip isi amplop panjang sebelum memasukkannya ke kantung jaket nya. Senyuman bangga tampak mengembang di wajahnya, matanya tak lepas menatap Aulia. “tak kusangkan, warisan mu banyak juga ya. Kau sunggu beruntung, loh.”, katanya dengan nada santai, sebelum barista mengantarkan kopi pesanannya ke meja nya. Ia hanya mengangguk singkat ke arah barista tanpa mengucapkan terimakasih.

Senyuman yang serupa mulai berkembang di wajah Aulia. Sesuatu yang dingin terpancar di wajahnya. “Senang bekerja sama dengan mu juga, Razi.”, ujar nya pelan, sebelum meneguk sisa kopi di cangkirnya.

 

*****

 

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.