Tegas dan Berani

JADI, CINTA ITU SIAPA? Amirah Fadhilah Kriminologi UI

0

AMIRAH FADHILAH

Kriminologi UI

JADI, CINTA ITU SIAPA?

 

Suara teriakan itu tak henti-hentinya terngiang di telingaku. Aku berusaha mengabaikan dan tidak memperdulikan apa yang tengah terjadi pada mereka. ‘Toh, bukan urusanku’, setidaknya pikiran itu yang terus keingat. Pandanganku fokus tertuju pada layar ponselku sambil memainkan jari-jariku di suatu gambar peta, berharap agar si pengemudi ojek online yang kutunggu bisa datang secepatnya. Heningnya malam terpecah oleh suara jangkrik dan pasangan pemuda-pemudi yang terus menggangguku. Jika bukan karena tugas kuliahku, aku tak akan mau jauh-jauh kesini. Aku hanya ingin cepat pulang dan pergi dari sini. Tak berapa lama, pengemudi ojek online yang dinanti-nantikan akhirnya datang  juga. Sambil menyerahkan helm padaku, bapak paruh baya ini bercerita tentang macetnya jalan raya dan sulitnya akses untuk menjemputku.

“Jalanannya macet banget, Neng. Udah gitu banyak jalan yang rusak juga pas masuk ke daerah sini,  jauh lagi.”, keluh si bapak.

Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk padanya, tanda terima kasih dan permohonan maafku karena telah menyulitkannya. Lokasi ini memang sedikit sulit terjangkau, terlebih lagi jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Itulah yang kucari dan menjadi bahan penelitianku, hingga sebagai bentuk terima kasih, aku  mengirimkan sejumlah bingkisan untuk para narasumber.

Baru saja aku naik ke atas motor dan bersiap untuk pulang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, yang seakan sedang adu kecepatan. Aku dan bapak pengemudi menghiraukannya, hingga sontak sang bapak mengerem secara mendadak.

Loh, Pak, kok ngerem?”, tanyaku terkejut.

Neng, coba tengok ke belakang, Neng.”, jawabnya dengan suara yang bergetar.

Secara reflek aku langsung menengok ke belakang, bertanya-tanya mengapa sang bapak terdengar ketakutan. Benar saja, sesosok perempuan dengan baju sobek-sobek terkapar di tengah jalan berlimpungan darah di sekitar kepala dan kakinya. Di sampingnya, berdiri seorang laki-laki tanpa mengenakan celana sambil memegang sebongkah kayu. Aku teriak sekencang-kencangnya, hingga sekumpulan warga datang dan menangani kasus pasangan pemuda-pemudi tersebut. Di tengah kerumunan orang banyak, aku bisa mendengar suara samar-samar, “Cepat panggil ambulans, perempuan ini udah meninggal”, dan “kasian ya, abis dilecehin langsung dibunuh”. Aku terdiam dan seketika itu juga, aku pingsan. Ya, untuk beberapa saat aku tak sadarkan diri, seakan gejala traumaku muncul mendengar berbagai perkataan orang-orang.

Di kala itu, aku mendengar suara asing berusaha untuk menyadarkanku sambil menepuk-nepuk tubuhku. Kubuka mataku meski sedikit, kulihat perempuan berbaju pink seusiaku duduk dan seperti mencoba untuk menolongku. Namun, akhirnya aku sepenuhnya tak sadarkan diri dan terbangun di suatu rumah sakit di Jakarta, bersama dengan Mama yang terlihat khawatir di sampingku.

“Keysha, kamu udah gapapa? Mama panggil dokter ya. Keysha, Keysha,…”

Suara ini mengusikku dan membangunkanku. Mama tampak sangat khawatir dan cukup lega melihatku siuman. Aku tak ingat kenapa aku bisa sampai disini, hingga akhirnya Mama menceritakan tentang pengemudi ojek online yang dengan inisiatif menghubungi Mama dan beberapa warga sekitar yang meembawaku ke rumah sakit. ‘Oh, mungkin perempuan tadi menolongku dan ikut mengantarku kesini’, pikirku.

Setelah beberapa waktu, akhirnya kondisiku jauh lebih baik, meskipun harus tetap dirawat di rumah sakit. Aku cemas dengan kesehatan Mama dan memintanya untuk datang lagi besok. Sesaat setelah Mama pulang, tiba-tiba perempuan yang menolongku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamarku.

“Kamu gimana kondisinya? Udah mendingan?”

“Udah, kok. Makasi ya tadi udah bantuin aku. Kamu siapa ya?”

“Iya, tadi kebetulan aku ada disana dan kamu pingsan, langsung kutolong, deh. Oh iya, kenalin, nama aku Cinta. Kamu Keysha, kan?”

Aku mengangguk kecil, sedikit bertanya-tanya kenapa dia ada disini sampai saat ini, yang bahkan Mamaku saja sudah pulang. Tapi aku tak sungkan, setidaknya aku tidak merasa kesepian berada di rumah sakit ini. Kami bercerita hingga dini hari. Waktu terasa cepat ketika berbicara dengan dia, terlebih Cinta punya cerita yang sama denganku, yaitu pernah dilecehkan.

***

Aku dan Papa sedang menikmati liburan kecil berdua. Berada jauh dari kerumunan kota membuatku merasa senang, apalagi akhirnya aku bisa main sepuasnya dengan Papa. Kami mengelilingi taman yang penuh  dengan rerumputan hijau segar. Duduk di atas pundak Papa, rasanya aku bisa melihat segalanya. Sambil berlari-lari kecil, kami mengitari taman hingga Papa menurunkanku dari bahunya dan menggandeng tangan kecilku. Lelah memang, tapi tetap mengasyikkan.

Cukup lama kami berjalan-jalan, akhirnya kami menuju tempat makan di suatu penginapan. Inilah janji Papa sejak lama, menghabiskan waktu berdua untuk bermain denganku. Sambil memainkan boneka pemberian Papa, tiba-tiba muncul seorang ‘kakak’ muda yang meminta izin untuk ikut makan di meja kami. Semua meja penuh petang itu dengan para keluarga yang tengah liburan. Dengan ramahnya Papa mengizinkannya untuk duduk bersama kami. Sedikit obrolan yang bisa ku mengerti, dengan membawa buku dan lembaran, dapat kusimpulkan bahwa kakak ini adalah seorang mahasiswa. Papa senang sekali berbincang dengannya, mengingat Papa ingin sekali punya anak laki-laki.

Selesai makan, kami bertiga menuju kamar penginapan masing-masing. Tak disangka, ternyata kamar kakak ini bersebelahan dengan kamarku dan Papa. Senang bukan main, Papa mengajaknya untuk ikut masuk  ke kamar kami dan kembali mengobrol tentang banyak hal. Akhirnya Papa dan kakak ini mengobrol di balkon kamar sambil merokok, tapi aku tertidur pulas di kasur kamar. Cukup lama aku tertidur, hingga aku mendengar Papa bergegas keluar dengan membawa dompet dan berkata ingin membeli sebungkus rokok. Aku diam saja, tak beranjak dari posisiku. Namun, aku tersentak ketika mendengar suara kamarku dikunci. Sejenak aku membuka mataku, dan melihat kakak membuka celana panjangnya. Aku tak mengerti, jadi aku tak bergeming. Ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur, tepat di sampingku. Tiba-tiba, kurasakan jemari-jemari tangannya berada di sekitar pundakku yang perlahan lahan membuka baju tidur yang kukenakan. Aku memukul tangannya, tapi kekuatanku yang tak seberapa tidak menghentikannya.

“Sshhh, Keysha ‘kan anak baik, diam ya, nurut sama kakak. Papa masih lama, karena tokonya jauh dari sini. Jadi, Keysha ditemenin aja ya sama kakak.”

Kata-kata itu berulang kali diucapkannya dengan aroma mulut yang aneh sambil melepaskan baju pink yang  ada di tubuhku. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku ketakutan. Aku menangis, namun tak dihiraukannya. Aku tak tahu apa yang dilakukannya dengan tubuhku, tapi aku merasa aneh dan kesakitan, sangat sakit. Sempat aku sedikit berteriak, namun tangannya membekap mulutku hingga aku tak bersuara. Badan kami berdua terus bergerak, hingga akhirnya aku merasakan cairan lengket menetes di punggungku. Kakak terkapar di sampingku, seolah tak memiliki tenaga. Aku menangis dan berteriak sambil memanggil Papaku, berharap Papa segera pulang menjemputku. Cukup lama aku begitu hingga kudengar ketukan pintu. Aku langsung memanggil Papa dan terus menangis. Ketukan pintu semakin kencang hingga akhirnya Papa mendobrak pintu kamarku.

Mata Papa terbelalak melihatku dan kakak hanya tertutupi selimut saja. Dengan emosi, Papa menarik badan kakak dan menghajarnya di hadapanku. Ia terjatuh dan Papa memakaikanku pakaian sambil menangis dan memelukku. Di saat itu, aku hanya ingin pulang dengan Papa dan mengadu ke Mama. Mendadak, kakak memukul badan Papa dan terjadi perkelahian, dan tanpa sengaja tubuh mereka terlempar dari balkon dan jatuh ke bawah. Sesaat, pengunjung lain menghampiriku dan menjagaku. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi Papa tak pernah kembali. Begitu juga dengan kakak itu. Aku hanya mendengar obrolan pengunjung penginapan dengan Mama yang datang saat itu juga. Satu pernyataan yang kuingat, yaitu “Bapak terbunuh sama anak kuliahan yang lagi mabuk.” Mama terus memeluk dan menggendongku saat itu, namun tidak bertanya apapun padaku. Dan tanpa kusadari, perlahan aku lupa dengan semua tragedi yang terjadi malam itu.

***

Sekian hari berada di rumah sakit, akhirnya aku diperbolehkan pulang ke rumahku. Aku langsung menuju kamar tidurku, menghela nafas dengan berat karena merasa sepertinya aku melalui minggu yang panjang. Sambil melihat ponselku, cukup banyak kontak dari teman-teman kuliah yang mulai mengingatkanku akan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Kugulirkan layar ponselku ke bawah dan menemukan nama Cinta di tengahnya. ‘Kalau udah pulang dari rumah sakit, kabarin aku ya”, kira-kira begitu isinya. Tanpa menanggapi kontak dari teman-temanku yang lain, aku justru langsung mengajak Cinta untuk bertemu di suatu taman kota. Aku merasa aku punya kecocokan dengan Cinta dan merasa nyaman berbicara dengannya, apalagi aku terbilang sulit dalam memiliki teman dekat.

Akhirnya sore itu, aku bertemu dengannya dan bercerita banyak hal dengannya. Hari itu, taman kota masih sepi, mengingat orang-orang masih terikat di kampus dan tempat kerjanya. Aku lebih banyak bertukar pikiran tentang laki-laki, dan kami memiliki pandangan yang sama. Kami membuka ponsel kami dan membaca berbagai kasus pelecehan dan perkosaan. Dadaku terasa sesak dan kepalaku sakit, seakan membawaku kembali ke masa lalu dan mengingatkanku akan tragedi masa kecil. Seolah memiliki kembaran, Cinta mengungkapkan perasaan yang sama denganku ketika melihat kasus-kasus seperti itu. Kami terus mengobrol sampai malam dan aku harus pulang sebelum Mama pulang kantor.

Ketertarikanku dan Cinta yang sama akan kasus pelecehan seksual oleh laki-laki membuatku terus mencari tahu informasi lebih banyak melalui media sosial. Setiap hari aku bertemu dengan Cinta dan selalu menemukan pelaku-pelaku baru yang melakukan pelecehan terhadap perempuan. Semakin lama aku semakin tak terima dengan perlakuan mereka yang seakan-akan dibiarkan oleh masyarakat dan pihak penegak hukum. Geram hati ini rasanya, sambil mengingat apa yang pernah terjadi padaku dulu.

Seiring waktu berjalan, tak terasa sudah 2 tahun lebih sejak aku mengenal Cinta. Meski selama itu, tak pernah bosan aku bertemu dan mengobrol dengannya. Kami selalu bertemu di taman kota atau di rumahku, karena aku seringkali ditinggal Mama sendirian. Aku dan Cinta masih terus membaca dan mencoba menyelidiki cara menangani pelaku pelecehan seksual. Hingga pada satu saat, aku melihat tulisan temanku, Naura, yang secara tersirat mengungkapkan bahwa dirinya merasa dilecehkan oleh pasangannya, Vidi. Hatiku langsung menggebu-gebu, berusaha mencari tahu informasi selengkap-lengkapnya tentang orang yang berani-beraninya melecehkan temanku. Akhirnya kutemukan kanal sosial medianya. Bisa dibilang, dalam hal ini, aku adalah orang yang cukup stereotype, atau menggeneralisasi semua orang dengan gaya hidup dan penampilan yang sama. Saat itu juga, aku merasa yakin bahwa Vidi benar-benar telah melakukan hal keji itu pada temanku. Melihatku fokus pada layar ponselku sendiri, Cinta bertanya dan akhirnya aku menceritakan semua hal padanya.

“Aku gak terima temen kamu diperlakuin kayak gini, Sha.”, katanya geram.

“Iya, aku juga bener-bener gak suka, Ta. Berani-beraninya dia kayak gitu ke temen aku. Dia bener-bener harus dapetin ganjarannya. Aku gak mau ada korban lagi. Orang yang kayak gini yang harus dimusnahin dari dunia.”, jawabku.

“Kamu serius mikir kalau orang kayak gitu harus dimusnahin, Sha? Kalau iya, aku bisa bantu kamu.”

Sejenak aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Dalam hati kecilku, sebenarnya itu hanyalah ungkapan kekesalanku saja. Namun, masa lalu kelamku kembali ke pikiranku dan membuat diriku sesak. Saat itu juga, Cinta menenangkanku dan menjelaskan pernyataan-pernyataan tentang laki-laki yang kurasa benar. Aku termenung, bertanya-tanya pada diriku sendiri, apakah aku benar-benar ingin memusnahkannya. Dengan bujukkan Cinta, akhirnya aku mengiyakan dan menyetujui rencana jahat itu.

Aku dan Cinta menyusun rencana berdasarkan tulisan-tulisan yang disebarkan oleh Vidi di kanal media sosialnya. Setelah mengamati selama beberapa minggu, aku dan Cinta tahu bahwa Vidi selalu mendatangi klub malam setiap akhir pekan di waktu yang sama. Kami juga memperhatikan siapa-siapa saja yang selalu berada di sekitar Vidi, yang menurut Cinta, mereka juga melakukan hal keji serupa dengan Vidi. Melihat hal-hal itu, aku jadi semakin yakin untuk melakukan hal ini. Melakukan hal buruk untuk kebaikan orang lain merupakan kebaikan juga bukan?

Segala perkakas yang kubutuhkan sudah kusediakan. Bukan itu saja, aku bahkan menipu tukang parkir yang bekerja di klub malam tersebut, membujuknya agar mobil Vidi ditempatkan di tempat parkir yang jauh dan tidak terdeteksi banyak orang. Dengan sedikit rupiah, rencanaku berjalan mulus. Benar saja, tukang parkir tersebut sengaja memarkirkan mobil dan motor lain di depan klub malam agar mobil Vidi diparkirkan di tempat yang kuinginkan. Sambil menunggu Vidi dan teman-temannya menikmati malam terakhirnya, aku mengumpulkan keberanian dan mentalku untuk melakukan aksi nanti. Aku tak sendiri, aku mengajak Cinta agar aku tidak merasa kesepian dan setidaknya tidak sepenuhnya merasa bersalah. Di tengah-tengah penantian, tiba-tiba Cinta mengatakan hal yang tidak kusangka-sangka.

“Aku aja yang lakuin, ya. Jangan kamu. Aku gamau kamu malah jadi makin trauma karena kejadian ini. Aku udah pernah ada di posisi ini kok, jadi kamu nggak usah merasa gaenak ya sama aku.”

Aku terkejut. Tentu saja aku tidak menyetujuinya. Ini rencanaku dan temanku yang menjadi korbannya. Jika akhirnya harus ada yang disalahkan, biar aku yang tanggung semua risikonya. Tapi Cinta terus membujukku dan melarangku untuk melakukannya. Semua ucapanku tak didengar olehnya, seakan ia sangat memperdulikan aku dan mencegahku melakukannya sendirian. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya aku tak bisa berbuat apa-apa selain setuju dengan keinginannya.

Seperti yang sudah diduga, Vidi dan teman-temannya kembali ke mobil dalam keadaan mabuk. Mereka berjalan sempoyongan, persis dengan apa yang ada di pikiranku. Tidak butuh waktu lama, aku melihat Cinta menusukkan pisau ke leher Vidi dan kedua temannya, dan akhirnya melemparkan korek api ke mobil Vidi yang sebelumnya sudah kulumuri minyak tanah. Setelah itu, kami berdua lari menuju mobil kami dan setelah berjalan beberapa meter, aku mendengar suara ledakkan dari lokasi Vidi. Aku sedikit merasa lega dan menjadi pahlawan bagi Naura, setidaknya aku berhasil menyelamatkan beberapa perempuan dari pelecehan yang dilakukan Vidi dan teman-temannya.

Sesuai dengan apa yang dikatakan Cinta, kasus kematian Vidi dan teman-temannya tidak tersebar sedikitpun di media massa. Hanya pengumuman meninggalnya tiga mahasiswa di media sosial unversitasku, namun sepertinya tidak banyak yang merasa kehilangan. Semuanya sudah berlalu. Aku tidak ingin lagi membahas sedikitpun mengenai masalah ini dengan Cinta, karena aku merasa, kejadian ini menjadi pembalasan dendamku terhadap laki-laki yang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan dan atas kematian Papa. Untuk beberapa saat, bahkan Cinta memintaku untuk tidak menghubunginya.

***

Selang 2 minggu setelah kejadian, aku dan Cinta masih melakukan kontak, meskipun kami hanya bertemu beberapa kali. Aku melanjutkan tugas akhirku di sebuah toko kopi di kawasan kampusku. Cinta yang mengenalkan tempat ini padaku beberapa hari yang lalu. Aku sudah cukup lama mengetahui toko kopi ini, namun aku merasa malu untuk datang kesini. Terdapat beberapa orang yang sepertinya juga sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ada perempuan yang menghampiri mejaku dan bertanya apakah aku mau menjadi narasumbernya.

“Namaku Lena, aku lagi ngambil S2 Psikologi disini, dan aku lagi nulis tesis tentang reaksi perempuan terhadap pelecehan seksual oleh laki-laki usia 20-23 tahun. Kira-kira kamu tertarik nggak ya?”

Mendengar hal itu, tentu saja aku setuju. Aku senang karena ada orang lain lagi yang dapat menjadi saranaku untuk bertukar pikiran tentang masalah ini, mengingat aku dan Cinta kini sudah tidak sesering dulu bertemu satu sama lain. Aku mengobrol panjang dengannya dan akhirnya bertukar kontak. Lena memang jauh lebih berwawasan daripada aku dan Cinta, sesuai dengan pendidikan yang tengah diambilnya.

Aku jadi bertemu dengan Lena setiap hari. Kadang di toko kopi, kadang di taman kota, kadang juga di rumahku. Aku senang jika ada lebih banyak orang yang bertamu ke rumahku. Cukup sering aku menghabiskan waktu dengan Lena, hingga rasanya aku ingin mengenalkan Lena pada Cinta. Kupikir, mereka akan cocok dan kami bertiga bisa menjadi teman dekat. Akhirnya aku bercerita pada Lena semua hal yang kutahu tentang Cinta, tak terkecuali kasus pelecehan yang menimpa dirinya. Tetapi, aku sendiri tidak berani menceritakan kisahku, karena pada dasarnya kejadianku sama persis dengan apa yang terjadi pada Cinta.

Suatu hari, Lena bertamu ke rumahku membawa sejumlah berkas yang banyak. ‘Mungkin ini tulisan untuk tesisnya’, pikirku begitu. Kami tak hanya berdua, Lena mengajak rekan kuliahnya ke rumahku, dan juga ada Mama yang tumben sekali berada di rumah di hari kerja. Setelah berbincang untuk beberapa saat, Lena memintaku untuk berbicara langsung dengan Cinta. Tentu saja aku senang mendengar keinginannya. Aku langsung menelpon Cinta dan mengajaknya datang ke rumahku, tetapi ia bilang tidak bisa. Aku berbicara dengan nada yang  sedikit marah di telepon, dan Lena mendekatkan telinganya ke ponselku untuk mendengar percakapanku dengan Cinta. Akhirnya aku memasangkan pengeras suara, dan seketika wajah semua orang mengernyitkan dahinya sambil menatapku.

Saat itu juga, Mamaku mengangguk seakan memberi persetujuan pada Lena. Aku tak mengerti, hingga akhirnya Lena menunjukkan foto CCTV di toko kopi saat aku bersama dengan Cinta, dan juga foto CCTV saat aku dan Cinta bertemu tukang parkir di klub malam dan foto saat aku dan Cinta hendak masuk ke dalam mobil setelah membunuh Vidi dan teman-temannya. Aku kaget dan tak menyangka sama sekali semuanya terjadi seperti ini.

“Keysha, aku tahu kalau kamu yang membunuh Vidi. Aku tahu kalau kamu sendiri yang mengatur semuanya dan meminta bantuan tukang parkir. Tapi aku ngerti kenapa kamu ngelakuin ini semua, karena traumatis kamu yang sangat mendalam, makanya sekarang kamu jadi seperti ini.”, kata Lena.

“Nggak! Aku akuin, emang aku yang merencanakan ini semua, tapi aku gak sendiri. Aku dibantu sama Cinta! Aku udah ceritain semuanya ke kamu, Lena! Kalau aja Cinta dateng,…”

Tiba-tiba, Cinta muncul di rumahku. Aku bersikeras berusaha menjelaskan semuanya pada mereka. Mama menangis melihatku berbicara dengan Cinta, aku bingung. Sampai Lena mengatakan…

“Keysha, Cinta itu nggak nyata. Cinta gak pernah terhubung di telepon kamu tadi, ataupun sebelumnya. Cinta gak pernah ikut dalam semua rencana kamu, entah pas membujuk tukang parkir klub, atau membunuh Vidi. Semua itu kamu yang lakuin, Cinta itu cuma ada di khayalan kamu. Coba perhatikan baik-baik, Keysha. Apa Cinta pernah cerita dia tinggal dimana? Siapa orang tuanya? Apa pekerjaannya? Atau setidaknya, apakah ia memakai baju yang sama setiap ketemu sama kamu?”

Aku berpikir keras. Aku berusaha mengingat pertama kali aku bertemu Cinta dan memperhatikan Cinta yang ada di depan mataku. Ia memakai baju pink, persis saat pertama kali aku bertemu dengannya. Rambutnya, dandanannya, bahkan sepatunya pun sama dengan yang dulu ia kenakan ketika menolongku waktu itu. Aku tak percaya, tidak mungkin Cinta hanya ada di khayalanku saja. Aku tak terima, aku berontak dan berteriak-teriak. Mama menangis melihat kondisiku. Aku kehabisan tenaga, terkapar lemas meski tetap berusaha melepaskan pegangan Lena dan rekannya.

Keysha mengidap skizofrenia’, itulah yang kudengar dari mulut Lena. Penyakit psikologis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi dan sulit membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri. Selama ini, aku memproyeksikan diriku dalam sosok Cinta, begitu kata Lena yang ternyata adalah penyidik bagian psikologis dari kepolisian. Mama menangis sesak, sementara aku hanya terdiam, sambil menatap Cinta yang ada di hadapanku, yang kini aku tak tahu lagi siapa Cinta sebenarnya.

***

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.