Tegas dan Berani

Di Balik Topeng Burlesque* Cerkrim VANESYA YUSTRIANDITA (Kriminologi UI)

0

 

 

VANESYA YUSTRIANDITA

 VANESYA YUSTRIANDITA

Program Studi Kriminoligi Fisip Universitas Indonesia

Sabtu itu menjadi Sabtu ke-156 bagi Dhania tanpa ayahnya. Ayah Dhania meninggal tiga tahun yang lalu. Kematian ayah Dhania dapat dikatakan mendadak, karena tidak ada tanda-tanda penyakit serius. Ayah Dhania saat itu berusia 60 tahun. Ibu Dhania berusia sepuluh tahun lebih muda dibandingkan ayah Dhania.Sekarang Dhania hanya tinggal dengan ibunya. Dhania merupakan anak tunggal dari pasangan yang memiliki latar belakang seni. Ayah Dhania semasa hidupnya menjadi penari Sufi –tarian dari Turki dan penyair terkenal di Indonesia. Sedangkan, ibu Dhania dulunya aktif menjadi penari modern, namun semenjak menikah, ibu Dhania bergelut di bidang teater  dan menjadi penasihat senior di berbagai komunitas seni. Sayangnya, darah seni tidak terlalu mengalir pada Dhania.

Selalu ada hari di mana Dhania harus menangis. Ibunda sering memarahi Dhania karena kecewa tidak dapat meneruskan jejak orang tuanya sebagai penari. Semejak ditinggalkan ayah, ibunda bersikap lebih keras kepada Dhania. Berbagai kekerasan fisik dilakukan oleh ibunda kepada Dhania karena kecewa Dhania selalu gagal mengikuti audisi tari dan teater.

“AsdhaniaThaliaKalavati. Kamu tahu kenapa kamu dinamakan seperti ini? Asdhanidalam bahasa Sansekerta yang berarti memiliki jiwa seni, Thalia merupakan dewi seni dari Yunani dan Kalavati artinya seniman. Tapi apa yang kamu lakukan selama ini benar-benar tidak seindah namamu!!!” pinta sang ibunda pada Dhania setelah menamparnya dengan keras.

Suatu hari, Dhania mengikuti perekrutan terbuka anggota salah satu sanggar teater di Jakarta tanpa sepengetahuan oleh ibu dan temannya. Hari pemilihan anggota baru pun tiba. Ratusan anak muda memadati ruang tunggu sanggar. Dengan sabar, Dhania menunggu giliran. Waktu berlalu, tibalah saatnya Dhania berakting. Untuk kali ini, tidak seperti biasanya Dhania sangat menjiwai perannya. Walaupun begitu, Dhania sangat khawatir dengan hasil perekrutan yang baru diumumkan dua minggu setelah tanggal audisi.

Satu minggu berlalu, masih ada satu minggu lagi menuju pengumuman. Suatu siang ibunda pergi keluar rumah. Dhania memilih tetap berada di dalam rumah bersama Mbak Ijah, asisten rumah tangga. Malam tiba, Dhania asyik menyaksikan televisi, tiba-tiba, Dhania dikejutkan dengan breakingnews yang memberitakan seorang perempuan tewas karena kecelakaan tunggal, namun sayangnya belum diketahui siapa perempuan tersebut. Karena tidak terlalu menceritakan peristiwa terlalu detail, Dhania memilih mematikan televisi dan tidur.

Keesokan paginya, Dhania terkejut karena sudah ada beberapa anggota polisi di ruang tamu. Tanpa perlu penjelasan panjang agar tidak membuat Dhaniashock,Dhania pun digiring ke kantor polisi. Di perjalanan, akhirnya polisi menjelaskan bahwa Dhania di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lalu ke rumah sakit untuk menyamakan gen dengan mayat perempuan yang kecelakaan kemarin malam. Di kantor polisi, Dhania ditunjukkan barang bukti yang baru ditemukan dari evakuasi pagi ini, yaitu tas yang berisikan ponsel dan dompet.

“Pak… Saya punya bukti percakapan terakhir dengan bunda di ponsel Saya. Katanya bunda reuni dengan teman-temannya dan akan pulang telat…”Keluh Dhania sambil menangis dan menunjukkan bukti percakapannya dengan ibunda. “Oh iya, Saya mohon periksa kafe tempat ibunda terakhir berkunjung dan periksa juga teman-teman yang terakhir bertemu dengan ibunda.” lanjutnya.

Sekarang, Dhania tinggal bersama Mbak Ijah, bibi Arum, paman Agus serta satu anak mereka yang masih SD bernama Sylma. Kesedihan Dhania perlahan berkurang, ditambah lagi dirinya diterima menjadi anggota komunitas teater. Beberapa bulan berlalu, kemampuan seni pada Dhania semakin hari semakin bertambah. Dhania merasa bahwa roh kedua orangtuanya masuk ke dalam tubuhnya. Di sanggar, Dhania beberapa kali dipercaya untuk tampil di beberapa pertunjukan. Pagelaran demi pagelaran Dhania ikuti. Karena Dhania sudah memiliki kemampuan yang baik, maka Dhania memberanikan diri menjadi penari di berbagai klub malam. Pekerjaan baru Dhania ini tidak diketahui oleh orang seisi rumah.

Suatu malam, Dhania mengisi acara di suatu klub terbesar di Jakarta. Suasana saat itu sangat ramai karena dalam acara itu hadir juga berbagai discjockey (DJ) dari berbagai negara, tidak heran pula bahwa banyak kaum ekspatriat yang memadati acara ini. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, tiba saatnya Dhania untuk menari sendirian di panggung. Ini merupakan debut solonya. Dhania tampil sangat seksi dengan balutan setelan model bikini merah dan gemerlap.Setelah seluruh rangkaian acara selesai, Dhania ditemui oleh Richard, pemilik salah satu agensi tari dari Amerika Serikat. Richard menawarkan Dhania untuk bergabung dengan agensinya di New York yang berfokus pada pertunjukan Burlesque.[1]

Dhania memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa terbang ke New York karena Richard hanya memberi sedikit bantuan dana. Dhania bisa saja memanfaatkan warisan uang dari orangtuanya, namun ia tidak inginmelakukannya. Suatu hari, Dhania mendapatkan ide gila untuk meminta sponsor. Dhania menyuruh Richard untuk membuat “proposal palsu” berkedok kompetisi tari internasional, padahal tujuan Dhania sebenarnya untuk masuk ke agensi tari striptis. Agar meyakinkan, Richard membubuhkan tandatangannya dalam proposal. Usaha Dhania membuahkan hasil yang melebihi ekspektasinya.

Memasuki bulan September, seharusnya Dhania menjalankan semester 7 di kampus dan menyelesaikan skripsi. Namun, Dhania memilih cuti kuliah dan mengadu nasib di Paman Sam. Pagi itu, Dhania pamit kepada bibi, paman, Sylma dan Mbak Ijah serta memeluk mereka dengan erat. Dhania bergegas menuju bandara, memasuki imigrasi lalu menaiki pesawat yang transit terlebih dahulu di Singapura. Dhania berpindah pesawat tujuan New York. Perjalanan panjang selama 26 jam tidak terlalu terasa karena Dhania duduk di kelas bisnis yang nyaman, di sini Dhania juga berkenalan dengan Dave yang duduk di sampingnya. Sesampainya di Bandara Internasional John F Kennedy, Dhania dijemput oleh Richard dan langsung di bawa ke agensi tarinya. Dhania mendengarkan penjelasan dari Richard yang membacakan surat kontrak, rupanya honor yang akan diterima Dhania sangat fantastis, asalkan Dhania dapat tampil dengan baik. Selain itu, Dhania akan mengikuti pelatihan selama satu bulan dan ditempatkan di asrama. Tanpa berpikir panjang, Dhania menandatangani kontrak tersebut.

Keesokan paginya, Dhania menemui Dave di suatu kafe di wilayah Manhattan. Sebenarnya, tidak mudah untuk menjadi teman Dave karena orangnya sangat misterius, namun kepribadian unik Dhania meluluhkan hati Dave. Dave hanya menceritakan bahwa dirinya adalah pemilik kafe tersebut. Hubungan Dhania dengan seorang laki-laki tidak pernah sedekat ini karena seumur hidupnya karenaDhania belum pernah memiliki kekasih. Setiap mingguDhania menemuinya untuk mendengarkan curahan hatinya mengenai masa lalu yang pahit, bahkan sahabat Dhania di Indonesia tidak ada yang tahu cerita tersebut. Dhania merasa Dave adalah orang yang asyik untuk diajak bercerita.

Sepulang dari kafe, seperti biasa Dhania kembali ke asrama untuk berlatih. Sesungguhnya, latihan menari di tempat tersebut sangatlah melelahkan. Dhania dan kawan-kawannya dilatih oleh seorang pelatih profesional namun agak “gila” bernama Josh. Mereka siap menerima konsekuensi bila tidak latihan dengan serius yaitu mendapat hukuman keras oleh Josh. Kepribadian Josh memang aneh, khusus untuk Dhania, Josh akan menyetubuhi dirinya dengan paksa. Karena Dhania merupakan anggota baru, tidak heran bila Dhania sering menjadi “korban” dari Josh, entah mengapa Dhania justru menikmati hukuman tersebut.

Suatu malam, Dhania harus menghabiskan malamnya di rumah Josh, namun kali ini bukan karena menjalani hukuman. Malam itu Josh bersikap sangat lembut kepada Dhania. Josh memuji penampilan Dhania di teater beberapa hari yang lalu. Sebagai hadiahnya, Josh memberikan kasih sayangnya pada Dhania.

Keesokan paginya, Dhania dikejutkan dengan foto Josh bersama sesosok laki-laki yang sangat mirip dengan mendiang ayah Dhania.

“Oh, pria Turki itu adalah salah satu rekan Saya dulu. Aku rasa dia bukan Ayahmu, kamu tahu sendiri kan kita bisa saja memiliki beberapa kembaran di dunia ini.” Jelas Josh dengan santai. “Oh iya jangan lupa minggu depan ada pertunjukan di teater besar, latihan dengan baik ya!” lanjutnya sambil mengalihkan topik.

Satu hari sebelum pertunjukkan besar, Dhania diminta Josh untuk menari striptis khusus untuk dirinya. Alasannya agar Dhania dapat tampil maksimal. Sebelum menari, Dhania disuguhkan vodka lalu menari dengan keadaan mabuk.

Keesokan harinya, pertunjukkan Burlesque anyar pun digelar. Pertunjukkan besar ini hanya berlangsung satu tahun sekali. Kali ini, Dhania yang lebih dikenal dengan nama panggung Dhane ini menggunakan topeng dalam aksinya, ciri khas dari pertunjukkan Burlesque yaitu penari harus menanggalkan baju hingga hanya penutup puting dan kemaluan yang tersisa. Penampilan Dhania pada malam itu menjadi penampilan terbaik seumur hidupnya. Penonton berdecak kagum atas aksi Dhania. Setelah selesai tampil. Josh mengadakan pesta pribadi di kamar hotel yang disewa Josh atas keberhasilan Dhania. Lagi-lagi Dhania disuguhkan vodka terbaik, kali ini beberapa botol sanggup ia habiskan. Dhania diminta untuk melakukan aksi Burlesque tadi hanya untuk Josh. Malam itu Dhania sangat dimabuk asmara sambil menunjukkan gerakan erotisnya. Setelah itu, Dhania langsung terkapar, namun Josh memilih untuk menaruh tubuh Dhania di sofa.

Josh memang gila, dua hari sudah ia kabur dari hotel dengan meninggalkan Dhania. Polisi menggebrak kamar hotel dan terkejut melihat tubuh mulut Dhania yang berbusa, matanya yang terbelalak dan tentunya tubuh yang tidak bernyawa lagi. Pada saat penggeledahan itu, polisi ditemani investigator bernama Spencer Davies, yang tidak lain adalah nama lengkap Dave. Ya, selama ini Dhiania tidak tahu bahwa Dave merupakan seorang detektif dan menjadi pemilik kafe hanya dijadikan usaha sampingannya saja. Tidak ditemukan barang bukti apapun dalam kamar tersebut, tetapi Dave mencium sisa bau racun dari tempat sampah yang sudah tidak ada isinya tersebut. Akhirnya, tim polisi hanya mengambil tempat sampah tersebut, karena barang-barang Dhania sudah dibawa kabur oleh Josh.

Berita kematian Dhania menjadi topik yang selalu dibahas selama dua minggu di New York. Sambil menyaksikan tayangan berita tersebut, Dave tertunduk lemas sambil sesekali menyeruput kopi. Ia tidak percaya bahwa sahabatnya itu pergi untuk selamanya. Saat itu bahkan Dave belum tahu siapa pembunuhnya. Akhirnya, Dave berinisiatif melakukan pendekatan dengan orang-orang yang berada di agensi tempat kerja Dhania dulu. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan informal, Dave menyamar menjadi orang biasa yang memiliki berbagai latar belakang pekerjaan. Dave sudah menemui Richard dan teman-teman Dhania, namun tidak membuahkan hasil. Dave harus berkenalan dengan Josh, Dave mengetahui Josh dari teman-teman Dhania saat melakukan obrolan santai beberapa hari yang lalu. Karena Josh menghilang, perlu waktu satu bulan untuk melacak keberadaannya. Dave berhasil bertemu dengan Josh di San Francisco, kota ini berada di bagian barat Amerika Serikat. Dave dan tim polisi harus melakukan pejalanan dari ujung timur Amerika Serikat di mana kota New York berada.Saat di San Francisco, sehari-harinya Dave bertemu dengan Josh seorang diri agar tidak mudah dicurigai. Modusnya, Dave ingin mengajak Josh untuk bergabung dengan bisnis restorannya yang katanya akan dibuka di San Francisco. Dave berkonsultasi mengenai bidang hiburan yang akan menjadi bagian dari restoran baru Dave dengan Josh karena Josh dianggap berpengalaman di bidang hiburan. Beberapa minggu kemudian, mereka terbang kembali ke New York berdua. Lagi-lagi pihak kepolisian sengaja tidak memesan penerbangan yang sama dengan Dave.

Tibalah Dave di rumah Josh. Mereka melanjutkan perbincangan pengenai rencana serius Dave. Tiga hari kemudian, Dave berkunjung lagi. Kali ini, ia mencoba memperhatikan barang-barang yang ada di rumah Josh, Dave terkejut melihat foto pria Turki bersama Josh, karena Dave teringat dengan cerita Dhania bahwa mendiang ayahnya adalah orang Turki dan Dhania sempat mengirimkan foto keluarganya kepada Dave. Bukti lainnya, Dave menemukan foto Josh bersama para penaridari agensi milik Richard. Diam-diam, Dave menghubungi polisi untuk langsung meringkus Josh.

Di kantor polisi, Josh diinterogasi secara mendalam bahkan sampai harus menggunakan pendeteksi kebohongan. Josh disuruh menjelaskan kedua foto tadi ditambah foto Josh bersama beberapa orang berwajah Asia yang ternyata ada mendiang ibu Dhania. Dave mencari hubungan atas kematian seluruh keluarga Dhania. Akhirnya Josh mengaku bahwa Dave membunuh ayah Dhania karena merasa tersaingi, begitupun dengan ibu Dhania. Josh adalah orang yang tidak terima bila dirinya tersaingi, Josh merasa Dhania memiliki kemampuan yang sangat hebat sehingga Josh membunuhnya. Tetapi, Josh baru tahu bahwa Dhania adalah anak dari pasangan suami istri yang telah diracuninya. Korban Josh tidak hanya mereka bertiga saja, terdapat sepuluh pekerja seni lainnya yang diracun oleh Josh.

Satu bulan setelah penetapan tersangka. Kabar kematian Dhania baru terdengar oleh keluarganya dan pemerintah Indonesia. Setelah kejadian itu, Dave mengabdikan dirinya untuk menjadi detektif di Indonesia.

 

[1]Burlesque: sebuah pertunjukkan yang mengandung unsur komedi, namun menampilkan unsur tarian erotis. (Oxford EnglishDictionary, 2011).

Keterangan:

  1. Semua nama dalam cerita ini adalah fiktif belaka.
  2. Cerita ini bukan berdasarkan kisah nyata, hanya hasil dari ide penulis.
  3. Foto yang ditampilkan pada cover adalah foto yang diambil sendiri oleh penulis, karena kebetulan penulis memiliki properti penari yang sesuai dengan cerita ini. Model dalam foto tersebut adalah penulis sendiri.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.