Pengkhianatan Kompeni Hitam

0

 

Priyono B. Sumbogo

Kompeni adalah sebutan yang diberikan oleh penduduk Nusantara pada  Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur. Gabungan sejumlah perusahaan pribadi dari Belanda ini didirikan pada tanggal 20 Maret 1602 dan memonopoli perdagangan di Asia.

Pemerintah Belanda memberi Kompeni kewenangan memiliki tentara yang harus mereka biayai sendiri. Selain itu, Kompeni juga mempunyai hak membuat perjanjian kenegaraan dan menyatakan perang terhadap suatu negara. Wewenang inilah yang menyebabkan VOC, dapat bertindak seperti satu negara.

Pada 1652, Jan van Riebeeck mendirikan pos di Tanjung Harapan (ujung selatan Afrika, sekarang ini Afrika Selatan) untuk menyediakan kapal VOC yang akan berlayar ke Asia Timur. Pos ini kemudian menjadi daerah koloni ketika lebih banyak lagi orang Belanda dan Eropa lainnya mulai tinggal di sini. Pos VOC juga didirikan di Persia (Iran), Benggala (Bangladesh) dan sebagian India, Ceylon (Sri Lanka), Malaka (Malaysia), Siam (Thailand), Cina daratan (Kanton), Formosa (Taiwan) dan selatan India. Pada 1662, Koxinga mengusir Belanda dari Taiwan.

Pada 1669 VOC menjadi perusahaan pribadi terkaya dalam sepanjang sejarah, dengan lebih dari 150 perahu dagang, 40 kapal perang, 50.000 pekerja, angkatan bersenjata pribadi dengan 10.000 tentara, dan pembayaran dividen 40%.

Di Nusantara, Kompeni mendirikan markas utamanya di Batavia (Jakarta). Dari sini kemudian mereka menaklukkan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara dan memonopoli perdagangan. Metode yang digunakan untuk mempertahankan monompoli termasuk kekerasan terhadap populasi lokal, dan juga pemerasan dan pembunuhan massal.

Berbagai sumber referensi menyebutkan bahwa untuk mendukung kekuasaannya di Indonesia, selain mendatangkan balatentaranya sendiri, Belanda membentuk berbagai pasukan yang prajuritnya berasal dari penduduk setempat atau pribumi. Tujuannya adalah untuk lebih mengenal karakter rakyat Indonesia dan tentu untuk mengadudomba penduduk.

Berbagai Pasukan tersebut di antaranya adalah Mardijkers. Mereka kebanyakan keturunan serdadu-serdadu pribumi yang ditawan oleh Spanyol dan Portugis, ketika Belanda perang melawan kedua negara tersebut. Setelah dibebaskan, mereka bertugas kembali di ketentaraan VOC, dan secara tradisional, keturunan merekapun menjadi serdadu Kompeni. Kemudian masuk juga mantan budak-budak yang berasal dari India dan Afrika, yang becampur dengan budak-budak yang berasal dari Sulawesi, Bali dan Melayu. Hampir seluruhnya menganut agama kristen. Tahun 1777 terdapat 6 kompi Mardijkers (sekitar 1.200 orang) di dinas ketentaraan VOC yang bertugas menjaga perumahan Belanda di dalam kota.

Resimen Warttemberg adalah tentara bayaran dari Jerman yang disewa oleh Kompeni untuk menguasai Nusantara. Jumlah mereka cuma sekitar 2.000 orang. Banyak dari mantan serdadu dan perwira Jerman yang kemudian tinggal dan berkeluarga di Indonesia. Hal ini yang menerangkan bahwa di Indonesia sejak beberapa generasi ada orang-orang Indonesia yang mempunyai nama keluarga Jerman.

Tentara Belanda yang paling terkenal adalah KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger), yang dibentuk setelah Kerajaan Belanda mengambilalih penguasaan atas nusantara dari VOC. Pasukan ini dimaksudkan untuk menghadapi Perang Diponegoro (1825- 1830).

Dari catatan tahun 1830, terlihat perbandingan jumlah perwira, bintara serta prajurit antara bangsa Eropa dan pribumi dalam dinas ketentaraan Belanda. Di tingkat perwira, jumlah pribumi hanya sekitar 5% dari seluruh perwira. Sedangkan di tingkat bintara dan prajurit, jumlah orang pribumi lebih banyak daripada jumlah bintara dan prajurit orang Eropa, yaitu sekitar 60%.

Secara rinci, kekuatan tentara Belanda tahun 1830, setelah selesai Perang Diponegoro adalah: 603 perwira bangsa Eropa, 37 perwira pribumi, 5. 699 bintara dan prajurit bangsa Eropa, 7.206 bintara dan prajurit pribumi.

Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa. Mereka ini disebut Kompeni Hitam (Zwarte Nederlander).

Tahun 1950, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, jumlah orang Indonesia yang masih menjadi serdadu KNIL diperkirakan sekitar 60.000 orang dari berbagai suku. Dan tentara yang berasal dari pribumi menjadi tulangpunggung yang memungkinkan Belanda menang dalam banyak pertempuran melawan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Kini, jumlah orang bule di Freeport pastilah jauh lebih kecil daripada manajer, karyawan, dan petugas keamanan dari kalangan pribumi. Orang-orang yang paling lantang membela Freeport juga pribumi.

Kesimpulannya sederhana saja, yakni bangsa Indonesia ini selalu dikalahkan oleh pengkhianatan penduduk pribumi sendiri. Pengkhianat adalah makhluk sialan yang lebih jelek daripada kampret. Dan celakanya makhluk-makhluk itu tidak merasa menjadi pengkhianat. Tapi mereka juga patut dikasihani, karena mereka tergolong pribumi yang tidak memiliki karakter dan kehormatan. Mereka adalah begundal.

You might also like More from author