Menjadi Pribumi Yang Berkuasa

0

 

Priyono B. Sumbogo

Ketika gadis dusun menetapkan hati merantau ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga, bukan sebagai pelancong, mereka tidak berpikir dan  tidak tahu bahwa ada orang-orang yang lebih dulu memetik untung. Orang-orang beruntung itu ada di pemerintahan, perusahaan asuransi, dunia calo, dan perusahaan pengirim tenaga kerja.

Gadis dusun memang tidak punya prasangka buruk pada priyayi-priyayi berdasi di kota atau pada calon majikan di negeri rantau. Apapun perlakuan yang dialami, mereka terima sebagai takdir. Sebelum berangkat mereka dilatih di tempat semacam penyekapan. Setiba di luar negeri, mereka mengira mendarat di tanah surga.

Banyak yang menemukan uang sebagaimana mereka angankan, walaupun cuma sebagai tukang cuci piring. Walaupun mereka harus bangun pagi-pagi sekali dan baru tidur di larut malam setelah majikan mendengkur. Walaupun di antara mereka ada yang harus melayani berahi tuan manakala nyonya majikan sedang belanja atau karena sudah kendor.

Banyak pula yang tak perlu di dapur, melainkan dipaksa rebah di ranjang remang-remang dan harus membiarkan lelaki manapun hinggap di sana. Di berbagai rumah terkunci, tidak ada luar negeri bagi mereka,  karena dunia gadis dusun hanya sebatas tembok. Hidup mereka lebih tak enak ketimbang di dusun. Hardikan dan pukulan adalah imbalan kerja mereka.

Lelaki-lelaki dusun memang lebih beruntung. Meskipun sebagai kuli atau sopir, mereka punya sedikit keberanian untuk melawan. Tetapi mereka tetap menempati kelas budak, kelas tak berharga bagi bangsa tanah rantau.

Apa boleh buat, Indonesia adalah bagai Israel dan Palestina masa lampau. Lunglai oleh raja-raja yang masing-masing punya kekuasaan sendiri, meskipun Indonesia berstatus Negara Kesatuan dan mendeklarasikan bahwa segala kekayaan alam diperuntukkan bagi kemakmuran seluruh rakyat.

Nun di pedalaman, orang-orang asing menyedot emas, tembaga, gas, dan minyak dari perut Indonesia, lalu dibawa pulang ke negeri tempat bangsa Indonesia jadi budak. Di hutan ada raja-raja pembalak yang berkuasa atas politisi, pejabat, dan pelaksana hukum. Dari hutan yang diperas, mereka mengirim duitnya ke rantau, ke negeri tempat bangsa Indonesia jadi budak. Di kota-kota ada istana judi, arena mucikari, dan pasar opium. Uangnya dibawa ke rantau, ke negeri tempat bangsa Indonesia jadi budak.

Di rumah sendiri, begitu banyak anak bangsa Indonesia juga jadi budak. Dengan terpaksa maupun sukarela mereka (atau kita semua) membungkuk-bungkuk di bawah perintah orang asing  penyedot emas, pembalak hutan, penyelenggara dunia remang-remang dan opium.

Di masa lampau ada riwayat bangsa Israel yang terhina. Tapi mereka terhina di negeri orang. Sedangkan bangsa Indonesia terhina di negeri sendiri dan di negeri orang. Bangsa Indonesia pun tak seberuntung bangsa Israel yang dikaruniai Nabi Musa untuk membebaskan bangsanya.

Sekarang periode kelahiran para nabi sudah berakhir. Lagi pula Indonesia, entah mengapa tidak memperoleh kehormatan menjadi tempat turunnya nabi. Sebaliknya, Indonesia mencatat sejarah sebagai budak penjajah India, Cina, Portugis, Belanda, dan Inggris. Sekarang pun bangsa Indonesia adalah taklukan bangsa dan ras lain. Tetapi pasti banyak yang marah bila disimpulkan bahwa Indonesia tidak punya kedaulatan. Sebab di sini ada presiden, wakil rakyat, angkatan bersenjata, kepolisian, taipan-taipan, dan pers bebas.

Dengan “kedaulatan” tersebut, orang-orang yang punya kewenangan atau kepandaian, menyebut orang-orang asing sebagai “investor” dan pembantu di luar negeri sebagai “pahlawan devisa”. Di antara kita akan begitu tersinggung disebut inlander, kendati jemari “investor” itu pernah meyuruh-nyuruh seorang mantan Presiden. Di antara kita akan marah bila ada yang menyebut “pahlawan devisa” sebagai budak. Sebab, menjadi bangsa jajahan dan budak adalah takdir kita, dan oleh karena itu tidak menyakitkan.

Mungkin akan aneh bila suatu hari kita menyerang Singapura atau negeri lain untuk mengambil kembali kekayaan Indonesia yang disembunyikan di sana, membebaskan para pembantu rumah tangga asal Indonesia, kemudan  menjadikan orang Singapura sebagai budak.

Tapi apa salahnya sekali waktu tampil beda. Apa salahnya mengambilalih Freeport dan segala perusahaan asing. Apa salahnya menyerang Singapura, kuasai pusat-pusat bisnisnya, rebut bank-banknya, angkut uangnya ke Indonesia. Dengan uang yang sebenarnya milik Indonesia itu, kita bisa memanggil para Tenaga Kerja Indonesia untuk bekerja di negeri sendiri saja atau memberi modal pada mereka untuk jadi tuan di negeri orang.

Kita tidak perlu menunggu Nabi Musa, karena memang tak akan datang, tetapi cukup dengan mengubah watak dari budak menjadi bangsa yang menjadi tuan di negeri sendiri. Menjadikan pribumi sebagai penguasa ekonomi dan penguasa semua sekto. Rebut penguasaan ekonomi dari tangan orang asing. Juga dari keturunan Cina.

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.