Konsepsi Keberagaman Orang Pribumi

0

Priyono B. Sumbogo

Kebhinekaan atau heterogenitas atau pluralitas adalah takdir. Para penganut Islam sudah tahu sejak dulu. Sebagai pemeluk Islam, walau tidak terlalu soleh, saya juga tahu. Kaum Ahok tidak perlu mengajari kami — para penganut Islam dan kaum pribumi — tentang hal itu. Orang Amerika dan para sekutunya yang mengaku paling demokratis dan pluralis, juga tak perlu menggurui soal itu.
Kami punya sejarah Piagam Madinah, perjanjian tertulis yang menjamin Yahudi, Nasrani, pemeluk Islam, pendatang (Muhajirin), dan penduduk asli (Anshar), bahkan kaum Majusi (penyembah api), hidup berdampingan di Madinah di bawah pemerintahan Islam. Yahudi, Nasrani, atau Majusi, bebas menjalankan kepercayaan mereka masing-masing. Yahudi boleh berdagang, tapi kalau curang akan dihukum. Orang Islam tidak boleh menyerang Yahudi. Orang Yahudi tidak boleh melecehkan orang Islam. Orang Nasrani boleh membangun gereja. Orang Islam boleh membangun masjid.
Singkatnya, siapa saja boleh menjalankan kegiatan kemasyarakatan secara bebas dan melaksanakan kegiatan rohani secara merdeka, sesuai aturan yang berlaku demi terselenggaranya Negara Madinah yang damai, rukun, dan aman.
Kedamaian, kerukunan, dan keamanan tersebut akan tercipta bila tidak ada pihak yang mendominasi, yang curang, yang merasa menjadi kelas masyarakat nomor satu, atau merasa paling hebat. Namun ketegangan dan peperangan dengan Yahudi tidak dapat dihindari, karena orang Yahudi curang dalam berdagang dan memusuhi umat Islam. Mereka mendominasi perekonomian dan merasa menjadi bangsa yang berhak menurunkan para Nabi. Mereka tidak mengakui Muhammad sebagai Nabi, karena bukan orang Yahudi.
Kini, di sini, di Indonesia. Saya pribumi asli. Saya penganut Islam. Sesuai aturan yang berlaku di Indonesia, saya tidak keberatan orang-orang Cina tinggal di sini. Saya tidak keberatan para penganut Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, bahkan penganut animisme, bermukim di sini. Sebab, saya meyakini sepenuhnya bahwa keberagaman atau kebhinekaan adalah takdir yang ditulis dan diamanatkan oleh Sang Maha Pencipta.
Kitab kami, Al-Quran, Surat Al Hujurat ayat 13, menulis Firman Allah SWT: ” Wahai para manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki, dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal”.
Dari ayat Al Qur’an tersebut, jelas bahwa keberagaman adalah mutlak bagi penganut Islam. Tapi kini kami dicitrakan fanatik, berpandangan sempit, bahkan teroris. Anak presiden pun memberi kami anugerah “ndeso”.
Saya bukan teroris dan saya sangat menentang terorisme. Bahkan saya mengutuk mereka sebagai pengecut. Siapapun mereka. Tetapi saya juga merasa geram pada Ang Kim Soei dan sebangsanya yang seenaknya membuat dan menjual narkoba di negeri saya. Juga pada konglomerat macam Liem Tjoen Ho ( Syamsul Nursalim) yang kabur ke luar negeri setelah melahap Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), atau bersekongkol dengan pejabat, wakil rakyat, preman untuk membangun perumahan mewah atau perkantoran setelah mengusir orang-orang pribumi yang secara ekonomi memang tak sekuat keturunan Cina.
Kebhinekaan macam apa yang ingin kita upayakan. Keberagaman seperti apa yang kita cita-citakan. Apakah keberagaman boleh menggusur penduduk kepulauan seribu untuk dijadikan pusat bisnis – dan entah apa lagi – oleh para konglomerat keturunan Cina. Apakah kebhinekaan membebaskan perdagangan menganut adamsemitsme, pemodal kuat boleh menelan pedangang kecil.
Bapak Presiden Joko Widodo, Ibu Megawati Soekarnoputri, serta para Bapak Pejabat pejuang keberagaman, saya beri tahu ya Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu. Dulu, cendol, lemper,kerak telor, tahu goreng, rujak uleg, dan dangan ringan lainnya, menjadi sumber matapencaharian orang pribumi. Sekarang, orang-orang Cina yang punya kios berderet-deret, bahkan perusahaan besar, juga jual cendol, rujak, tahu goreng, kerak telor. Minimarket juga di mana-mana, memberangus warung-warung kecil milik pribumi yang pada umumnya penganut Islam.
Alkisah, kemarahan ada di hati orang pribumi karena dikalahkan secara ekonomi. Banyak di antara mereka tidak punya penghasilan kemudian menjadi pengunjuk rasa untuk sekedar memperoleh seidikit rejeki. Dan celakanya ada wakil rakyat yang dengan kejam menyebut mereka sebagai “Panasbung”, pasukan nasi bungkus. Sungguh busuk mulut wakil rakyat seperti itu. Dia sama sekali tidak memiliki empati pada nasib bangsanya sendiri.
Ada pula pejabat yang dengan gagah berkata, kaum pribumi lemah, tidak pandai berdagang, pemalas, dan sejenisnya.
Ketahuilah wahai pejabat, kami kaum pribumi yang umumnya penganut Islam, berupaya berdagang dengan tanpa menabrak agama. Kami tidak akan menjual narkoba, tidak akan menyuap, tidak akan menggunakan preman atau tukang pukul.
Kami juga menimbang rasa pada sesama manusia, walau lain suku lain kulit. Sebab, kebhinekaan bagi kami adalah keberagaman yang harus mempertimbangkan perasaan dan nasib orang lain, serta tetap mempertimbangkan aspek relijius.
Apakah keturunan Cina, penganut Nasrani dan agama lain, juga memiliki konsepsi kebhinekaan seperti kami?

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.