Tegas dan Berani

Centeng Di Sarang Perampok Kerah Putih

0

 

Priyono B. Sumbogo

Sejarawan Onghokham menulis dua buku menarik tentang jagoan. Pertama berjudul Dari Soal Priyayi Sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2002). Yang kedua Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang, diterbitkan oleh Tempo, Freedom Institut dan LSSI tahun 2003

Di dalam ke dua buku tersebut, Ong menuturkan bahwa sejak zaman dulu jagoan seringkali justru bersanding dengan kekerasan dan kekuasaan. Jago adalah orang yang dianggap kuat secara fisik dan tangguh secara spiritual. Banyak jagoan bahkan dimitoskan kebal senjata. Seorang jago biasanya memiliki pengikut. Semakin banyak pengikut mereka dianggap semakin jago. Di zaman kerajaan atau sebelum masa kolonial, para jago merupakan alat penguasa.

Gejala jago berhubungan erat dengan tidak adanya negara sentral (pusat) yang kuat dan institusionalisasi kekuasaan. Penguasa tradisional biasanya akan memilih dan memelihara orang terkuat dalam masyarakat sebagai jago. Tujuan memelihara jagoan, tulis Ong, pada awalnya adalah untuk memelihara ketenteraman ketertiban yang diinginkan para penguasa pada zamannya. Dalam menjaga keamanan negara itu banyak praktek kekerasan yang digunakannya.

Dalam perjalanan zaman-zaman kerajaan di Indonesia, banyak raja yang awalnya mempunyai habitus jagoan, atau akarnya adalah dari kelompok massa jagoan lokal. Fenomena ini berlanjut hingga kini ketika pada para wakil-wakil rakyat berasal dari kelompok-kelompok massa jagoan pada wilayahnya masing-masing. Dari tukang pukul berubah menjadi pejabat negara. Tidak mengherankan jika praktik-praktik sebagai jagoan juga disahkan ketika menjadi pejabat negara.

Bekas penyamun sering dipakai untuk kedudukan bupati dan kolektor pajak. Jika di suatu daerah ada seorang perampok terkenal, maka daripada sukar untuk ditindas perampok ini dijadikan bupati (pengumpul pajak). Dengan kata lain, penggunaan kekerasan yang legal dan ilegal untuk menganggu tata tentrem praja adalah dua hal yang batasannya sangat samar dalam masyarakat masa lampau.

Cermin jago dalam sejarah yang diungkapkan Onghokham mempunyai konteksnya hingga kini. Banyak jagoan-jagoan yang kemudian menjadi pejabat negara. Untuk memaksakan kekuasaannya, praktek kekerasan—yang menjadi keakrabannya saat menjadi jagoan—tanpa canggung akan diterapkan.

Sementara negara sebagai sebuah institusi pelindung rakyat malah menyebar teror dengan praktik para pejabat negaranya yang sebelumnya adalah seorang jagoan lokal. Akhirnya para jagoan lokal ini menjadi orang kuat yang sangat disegani di daerah tersebut. Para orang kuat ini biasanya akan menjadi tokoh partai politik, organisasi massa yang berhubungan secara informal dengan kekuasaan. Bagi para jagoan yang telah “tobat” dan termakan usia, ia akan menjadi tokoh agama, religius yang memberikan “penutur kejernihan” pada rakyatnya (I Ngurah Suryawan, 2008).

Di masa kolonial Belanda, tukang pukul atau tjenteng (centeng) atau ”boedak” menjadi andalan untuk melindungi kompeni dan para pengusaha. Mereka direkrut secara resmi dan dipakai untuk menghadapi penduduk yang membandel.

Ada pengumuman yang dibuat tahun 1889 bagi penduduk pribumni. Yang ingin jadi budak atau centeng. Bunyinya sebagai berikut: PENGOEMOEMAN !!! DAG INLANDER,…..HAJOO URANG MELAJOE,…KOWE MAHU KERDJA??? GOVERNEMENT NEDERLANDSCH INDIE PERLU KOWE OENTOEK DJADI BOEDAK ATAOE TJENTENK DI PERKEBOENAN-PERKEBOENAN ONDERNEMING KEPOENJAAN GOVERNEMENT EDERLANDSCH INDIE. DJIKA KOWE POENYA SJARAT DAN NJALI BERIKOET: 1)Kowe poenja tangan koeat dan beroerat. 2) Kowe poenja njali gede. 3) Kowe poenja moeka kasar 4)Kowe poenja tinggal di wilajah Nederlandsch Indie. 5)Kowe boekan kerabat dekat pemberontak-pemberontak ataoepoen maling ataoepoen mereka jang soedah diberantas liwat actie politioneel. 6) Kowe beloem djadi boedak nederlander ataoepoen ondernemer ataoe toean tanah ataoe baron eropah.

Begitu bunyi sebagian pengumuman tersebut. Di bagian akhir tercantum tanggal pembuatan pengumuman tersebut: Pertanggal 31 Maart 1889 Niet Laat te Zijn Hoor. Batavia1889. Onder de naam van Nederlandsch Indie Governor Generaal H.M.S Van den Bergh S.J.J de Gooij.               Selanjutnya para centeng itulah yang meneror penduduk yang tak disukai Belanda atau tuan tanah. Baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.

Di zaman Indonesia modern ini, beberapa bulan lalu, wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal. Novel harus dirawat di rumah sakit di Singapura. Matanya harus dioperasi. Namun hingga kini pelaku penyiraman air keras belum terungkap.

Terlalu sembarangan bila menuduh oknum polisi atau komplotan upahan polisi yang mengerjai Novel Baswedan. Tetapi, siapapun pelakunya, perbuatan mereka cukup menjadi peringatan kepada penyidik KPK dan aktivis di luar kekuasaan untuk berhati-hati terhadap tukang pukul. Sebab, hidup di Indonesia, keinginan melakukan sesuatu untuk Indonesia dari luar lingkaran politik dan kekuasaan, seperti menjadi aktivis anti korupsi, adalah bagai menantang perampok di sarang penyamun.  Namun, semakin berbahaya, hidup semakin menggairahkan, dan eksistensi kian terlihat. Oleh sebab itu, walau tetap harus berhati-hati, tak perlu gentar pada tukang pukul.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.